TIMETODAY.ID,BOGOR – Drama Korea “When the Phone Rings“ telah menjadi bahan perbincangan hangat sejak penayangannya, dengan berbagai kontroversi yang menuai kritik dari penonton lokal maupun internasional.
Salah satu isu utama adalah penggunaan bahasa isyarat yang dianggap tidak akurat dan kurang menghormati komunitas tuna rungu.
Adegan-adegan ini dianggap tidak hanya menunjukkan kurangnya riset mendalam, tetapi juga berpotensi menyebarkan informasi yang salah tentang budaya bahasa isyarat.
Selain itu, drama ini mendapat sorotan tajam karena menyentuh isu geopolitik sensitif, khususnya terkait konflik Israel-Palestina.
Beberapa penonton menuduh adegan-adegan tertentu dalam drama ini memiliki agenda tersembunyi, yang memicu seruan boikot dari kalangan internasional.
Di Indonesia, drama ini mendapat perhatian khusus, terutama setelah episode terakhir yang menuai reaksi keras dari netizen.
Adegan dalam episode tersebut dianggap tidak hanya kontroversial, tetapi juga menyinggung perasaan penonton lokal, yang menyebabkan meningkatnya jumlah kritik di media sosial.
Hal ini diperburuk dengan penurunan kualitas cerita di paruh kedua drama, yang membuat sebagian besar penonton merasa kecewa dan kehilangan minat.
Akibatnya, rating drama ini mengalami penurunan signifikan, menunjukkan bahwa kontroversi yang terus bermunculan telah memengaruhi popularitas dan penerimaan drama secara keseluruhan.
Tidak hanya itu, produser dan tim produksi juga menjadi sasaran kritik karena dianggap kurang peka terhadap isu-isu budaya dan sosial yang diangkat dalam cerita.
Banyak yang mempertanyakan kurangnya konsultasi dengan ahli atau komunitas yang relevan untuk memastikan penggambaran yang lebih akurat dan sensitif.
Kontroversi ini memberikan pelajaran penting bagi industri hiburan, bahwa sensitivitas dan tanggung jawab dalam mengangkat isu-isu kompleks sangatlah krusial.
Jika tidak ditangani dengan baik, hal tersebut dapat berbalik menjadi boomerang, seperti yang terjadi pada drama ini.
Meskipun demikian, beberapa pihak berharap bahwa insiden ini bisa menjadi pembelajaran bagi para pembuat konten untuk lebih berhati-hati dan teliti dalam menggambarkan isu-isu budaya maupun politik di masa mendatang.
Industri hiburan diharapkan dapat menjadi medium yang tidak hanya menghibur, tetapi juga mendidik dan menciptakan harmoni antarbudaya.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































