TIMETODAY.ID, BOGOR – Kenaikan harga cabai belakangan ini menimbulkan keresahan di kalangan pedagang makanan, termasuk pengusaha nasi Padang dan warteg.
Mahalnya cabai, yang merupakan bahan pokok masakan mereka, membuat para pedagang harus memutar otak agar tetap bisa bertahan tanpa kehilangan pelanggan.
Komarudin (55), pemilik warteg di kawasan Tanah Sareal, Kota Bogor, mengaku sudah mengurangi porsi sambal yang disediakan.
“Biasanya saya bikin sambal satu panci besar setiap hari, sekarang dikurangi jadi setengahnya,” ungkap bang haji sapaan akrabnya.
Selain itu, ia mencoba menyiasati harga cabai mahal dengan mencampur sambal menggunakan bahan lain.
“Saya tambah tomat dan cabai rawit hijau yang harganya lebih murah. Rasanya tetap enak, tapi lebih ekonomis,” tambahnya.
Hal serupa dirasakan Roni Saputra (38), pengusaha nasi Padang di kawasan yang sama. Cabai merah besar, yang menjadi bahan utama rendang dan sambal, kini harganya mencapai Rp80.000 per kilogram.
“Kami terpaksa menaikkan harga lauk seperti rendang dan ayam pop sebesar Rp1.000–Rp2.000 per porsi. Kalau tidak, keuntungan bisa habis untuk biaya bahan baku,” jelas Roni.
Namun, ia juga mencari solusi lain dengan membeli cabai langsung dari petani.
“Saya coba langsung ambil dari daerah Sukabumi. Memang butuh usaha lebih, tapi harga lebih murah dibanding beli di pasar,” katanya.
Meski begitu, langkah menaikkan harga menu tidak bisa sembarangan dilakukan. Banyak pelanggan yang mengeluh karena daya beli masyarakat sedang menurun.
“Kadang kami hanya bisa pasrah, karena kalau terlalu mahal, pelanggan bisa lari,” kata Roni.
Para pedagang berharap harga cabai segera turun agar mereka bisa kembali menjalankan usaha tanpa beban berat.
“Kami harap pemerintah bisa cepat mengambil tindakan agar harga cabai stabil lagi,” tutur Siti. ***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































