Kisah Umat Kristen Gaza Merayakan Natal di Tengah Konflik

umat Kristen Gaza
Seorang pria berpakaian Sinterklas berbagi kebahagiaan bersama anak-anak Jalur Gaza di antara puing bangunan yang hancur akibat serangan brutal pasukan Zionis Israel. Foto: middleeasteye.net

TIMETODAY.ID – Selasa malam, Gereja Ortodoks Yunani Saint Porphyrius di Kota Gaza menjadi saksi bisu perayaan Natal yang penuh haru. Bangunan abad ke-12 ini, meski sebagian telah hancur akibat serangan udara, tetap menjadi tempat perlindungan bagi umat Kristen Gaza yang mencari secercah harapan di tengah perang yang tiada henti.

Ratusan umat berkumpul dalam suasana penuh keheningan, bukan untuk merayakan dengan meriah, tetapi untuk berdoa agar kekerasan segera berakhir. Di antara mereka adalah George Al-Sayegh, yang berminggu-minggu berlindung di gereja itu bersama keluarganya.

“Natal di Gaza kali ini membawa bau kematian dan kehancuran,” katanya dengan suara lirih. Kehilangan, ketakutan, dan duka seakan menjadi bagian dari hidup mereka.

Advertisement

Selama beberapa dekade, Natal di Gaza selalu dihiasi dengan gemerlap lampu, dekorasi pesta, dan pohon Natal yang indah. Lapangan Prajurit Tak Dikenal biasanya menjadi pusat perayaan, hidup dengan semangat Natal.

Baca Juga :  Bukan Kutub Utara, Ini Kota Terdingin di Dunia pada 2025

Namun, kini tempat itu hanyalah puing-puing akibat serangan udara yang menggempur tanpa henti. Gaza yang dulu penuh warna kini hanya menyisakan abu dan debu.

Duka mendalam juga menyelimuti komunitas kecil umat Kristen yang hanya berjumlah sekitar 1.100 jiwa. Sejak konflik antara Israel dan Hamas pecah pada Oktober tahun lalu, mereka hidup dalam ketakutan.

Serangan udara terbaru bahkan menewaskan 18 umat Kristen di Gereja Saint Porphyrius, menurut Kementerian Kesehatan Gaza.

Bagi Kamal Jamil Caesar Anton, Natal tahun ini penuh kesedihan. Tahun lalu, ia kehilangan istri dan putrinya akibat tembakan penembak jitu di kompleks Gereja Keluarga Kudus. Dengan mata berkaca-kaca, ia berkata, “Kami berdoa untuk perdamaian, agar perang berakhir sehingga orang-orang dapat hidup dengan aman.”

Ramez Al-Souri, seorang ayah yang kehilangan ketiga anaknya dalam serangan udara di gereja, juga merasakan penderitaan yang sama.

Baca Juga :  45 Jemaah Umrah India Tewas dalam Kecelakaan Bus di Madinah, Satu Orang Selamat

“Tahun ini kami berharap perang berakhir, tetapi setiap hari kami kehilangan orang-orang terkasih,” ujarnya.

Meski duka mendalam menghiasi hidup mereka, para umat tetap berusaha merayakan Natal dengan hati yang penuh doa.

Pemimpin komunitas Kristen setempat, George Anton, menyampaikan pesan penuh harapan dalam perayaan Natal kali ini.

“Kami menyerukan kepada semua pihak untuk mengakhiri perang dan mencari jalan sejati menuju perdamaian,” katanya.

Bagi mereka, Natal bukan lagi soal pesta dan hiasan, melainkan tentang bertahan dan berharap di tengah kehancuran.

Meski situasi Gaza penuh duka, doa-doa tetap dipanjatkan untuk perdamaian. Dari Gereja Saint Porphyrius yang penuh luka, suara harapan terus menggema.

Natal di Gaza menjadi pengingat bahwa bahkan di tengah kegelapan, cahaya harapan tak pernah benar-benar padam. ***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel