Diet Ekstrem Tanpa Karbohidrat Disebut Tak Selalu Sehat, Ini Penjelasannya

karbohidrat
Ilustrasi diet. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Tren menghindari gula dan karbohidrat secara total belakangan ramai diperbincangkan di media sosial. Banyak orang mulai menjalani pola makan ekstrem demi menurunkan berat badan lebih cepat.

Namun, perawat sekaligus kreator konten kesehatan Rizal mengingatkan bahwa tubuh tetap membutuhkan gula dan karbohidrat, terutama bagi mereka yang memiliki aktivitas fisik tinggi.

Melalui akun X miliknya, Rizal menegaskan bahwa gula dan karbohidrat merupakan sumber energi utama yang dibutuhkan tubuh untuk beraktivitas sehari-hari.

Advertisement

“Tubuh kita masih butuh gula, apalagi kalau aktivitas fisik tinggi,” tulisnya.

Menurutnya, kenaikan maupun penurunan berat badan sebenarnya lebih dipengaruhi keseimbangan jumlah kalori yang masuk dan keluar, bukan hanya dari jenis makanan tertentu semata.

“Yang bikin berat badan naik atau turun itu surplus atau defisit kalori, bukan semata jenis makronutriennya,” lanjutnya.

Baca Juga :  Hidup Damai Tanpa Kolesterol: Rahasia Sehat dari Dapur Anda

Diet Sehat Dinilai Lebih Realistis

Rizal menyebut pola diet yang lebih aman dan realistis adalah menjaga defisit kalori secara konsisten, memperbanyak konsumsi protein, serta diimbangi aktivitas fisik seperti olahraga atau latihan beban.

Ia juga menilai konsumsi gula tambahan masih memiliki batas aman selama tidak berlebihan dan total kalori harian tetap terkontrol.

“Kalau kalori harian masih defisit, berat badan tetap bisa turun meski makan donat atau minum matcha,” tulisnya lagi.

Karbohidrat Tetap Dibutuhkan Tubuh

Selain soal gula, Rizal turut menyoroti tren diet rendah karbohidrat yang dilakukan terlalu ekstrem.

Menurutnya, banyak orang memangkas asupan karbohidrat tanpa memahami fungsi penting zat tersebut bagi tubuh. Padahal, karbohidrat akan diubah menjadi glukosa sebagai sumber energi utama sebelum disimpan menjadi glikogen.

Cadangan energi itu sangat dibutuhkan, terutama bagi orang yang rutin berolahraga, gym, cardio, maupun memiliki pekerjaan dengan aktivitas fisik tinggi.

Baca Juga :  Ingin Menambah Berat Badan tapi Punya GERD? Ini Strategi Aman yang Bisa Dicoba

Jika asupan karbohidrat dipotong berlebihan, tubuh justru lebih mudah lemas, cepat lapar, hingga memicu keinginan makan berlebih atau craving.

Kondisi tersebut dinilai membuat program diet sulit dijalankan dalam jangka panjang.

Risiko Yo-Yo Effect

Rizal juga mengingatkan bahwa pola diet terlalu ketat berpotensi memicu yo-yo effect, yakni kondisi ketika berat badan turun drastis namun kembali naik setelah pola makan normal dijalankan lagi.

Karena itu, ia menyarankan masyarakat lebih fokus membangun pola makan seimbang dan berkelanjutan dibanding mengikuti tren diet ekstrem yang belum tentu cocok untuk semua orang.

Di tengah maraknya informasi kesehatan di media sosial, pendekatan diet yang realistis dan sesuai kebutuhan tubuh dinilai tetap menjadi kunci menjaga kesehatan jangka panjang.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel