
TIMETODAY.ID, DEPOK – Andina merapikan kerah seragamnya pagi itu. Blazer biru tua, dasi tipis, sepatu pantofel. Dari penampilannya, orang mungkin mengira ia bersiap menyambut penumpang di gerbang bandara. Padahal, pagi itu ia bersiap menyambut calon pembeli di tengah deretan kandang sapi.
Itulah keseharian Andina sejak bergabung dengan mal hewan kurban milik Haji Doni di kawasan Kelapa Dua, Depok, menjelang Iduladha 1447 H. Sebuah tempat yang, sejak beberapa hari terakhir, mendadak ramai diperbincangkan di media sosial, bukan karena stok sapinya, melainkan karena kostum para stafnya.
“Pengalaman kerja di sini cukup menarik dan seru. Kita juga harus berteman dengan sapi-sapi yang ada di sini, termasuk dengan ciri khas aromanya,” ujar Andina, Jumat (d/5/2026), dikutip dari beritasatu.com
Haji Doni tak pernah bermain aman soal konsep. Setiap tahun, ia sengaja menghadirkan tema berbeda untuk lapak hewan kurbannya, sesuatu yang ia yakini bisa mengubah persepsi orang tentang pasar ternak yang identik dengan kesan kumuh dan semrawut.
Tahun ini, ia memilih tema airline. Para mahasiswi yang ia rekrut tampil bak awak kabin, sigap, komunikatif, dan tentu saja berbau parfum, bukan kandang.
Namun di balik seragam yang rapi itu, ada realitas yang tak bisa dihindari.
“Dukanya paling melihat kondisi kotorannya, atau dijilat sapi,” kata Andina jujur.
“Tapi sejauh ini cukup menyenangkan,” tambahnya.
Ada tawa kecil yang menyertai kalimat itu, tawa seseorang yang sudah berdamai dengan kontradiksi pekerjaannya.
Bagi Haji Doni, merekrut mahasiswi bukan sekadar strategi pemasaran. Di empat outlet yang ia kelola, kehadiran mereka menjadi tulang punggung pelayanan.
“Kalau tidak dibantu mereka, customer nanti tidak terlayani,” katanya.
Namun yang membuat konsep ini melangkah lebih jauh dari sekadar gimmick adalah satu detail yang kerap luput dari perhatian public, kemampuan bahasa asing para stafnya. Sejumlah dari mereka fasih berbahasa Mandarin, Arab, dan Inggris menjadikan kandang sapi di Depok ini, secara tak terduga, ramah bagi pembeli internasional.
“Kalau customer dari Asia menggunakan Mandarin, langsung kami layani dengan bahasa Mandarin. Begitu juga pelanggan dari Timur Tengah,” ujar Doni.
Bukan omong kosong. Tahun lalu, sekitar 500 ekor sapi dipesan dari kawasan Timur Tengah , Qatar, Dubai, Uni Emirat Arab, hingga Arab Saudi.
Di sudut kandang, seekor sapi Limosin bertubuh besar berdiri tenang. Andina berjalan melewatinya tanpa ragu, menjelaskan bobot dan harganya kepada seorang pengunjung dengan nada yang sama seperti seorang pramugari menjelaskan rute penerbangan.
Mungkin itulah yang paling menarik dari tempat ini, bukan kostumnya, bukan viralnya, bukan pula angka pemesanan dari luar negeri. Melainkan bagaimana seorang mahasiswi muda belajar bahwa pekerjaan yang bermartabat bisa hadir dalam rupa apa pun, termasuk di antara aroma rumput dan kandang ternak.
Bahkan jika sesekali ia harus dilap lidah sapi.




































