TIMETODAY.ID, JAKARTA — Di tengah keseharian remaja yang kian lekat dengan layar ponsel, muncul kekhawatiran baru soal dampak media sosial terhadap kemampuan dasar mereka. Sebuah studi dari University of Georgia menemukan, semakin lama waktu yang dihabiskan remaja di media sosial, semakin menurun pula kemampuan membaca dan penguasaan kosakata mereka.
Temuan ini seolah menjadi alarm di tengah tren konsumsi konten cepat yang mendominasi berbagai platform digital. Remaja cenderung lebih sering menyerap informasi singkat dan visual, dibandingkan membaca teks panjang yang menuntut pemahaman mendalam.
Di Indonesia, pemerintah mulai merespons fenomena tersebut. Sejak 28 Maret 2026, akses media sosial bagi anak di bawah 16 tahun dibatasi melalui kebijakan PP Tunas. Sejumlah platform populer seperti YouTube, TikTok, Instagram, hingga Facebook masuk dalam kategori berisiko tinggi.
Menanggapi langkah ini, dosen Bahasa dan Sastra Indonesia dari Universitas Gadjah Mada, Sailal Arimi, menilai pembatasan tersebut relevan, terutama bagi anak-anak yang masih berada dalam fase perkembangan kognitif.
“Pembatasan akses ini membantu anak dan remaja dalam menyaring konten yang mereka konsumsi, terutama pada usia rentan,” ujarnya.
Ia menekankan bahwa penggunaan gawai sebenarnya tidak selalu berdampak negatif. Di satu sisi, perangkat digital bisa menjadi alat belajar yang efektif—mulai dari memperluas wawasan hingga membangun portofolio. Namun di sisi lain, penggunaan tanpa kontrol, seperti terlalu lama bermain gim atau mengonsumsi konten hiburan, justru berpotensi merugikan.
Paparan konten negatif, mulai dari kekerasan hingga perundungan daring, juga dinilai bisa memengaruhi perkembangan psikologis remaja. Bahkan, penggunaan berlebihan disebut dapat mengganggu interaksi sosial dan membuat anak cenderung menarik diri dari lingkungan.
“Yang penting bukan hanya membatasi, tapi memastikan gawai digunakan secara tepat sesuai usia dan fungsinya,” jelasnya.
Sailal menilai, pembatasan akses menjadi solusi yang lebih realistis dibandingkan mengandalkan kesadaran individu semata. Ia juga mendorong pengembangan teknologi yang mampu menyesuaikan konten berdasarkan usia pengguna.
Dengan pendekatan tersebut, penggunaan gawai diharapkan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan sarana yang mendukung tumbuh kembang remaja secara lebih sehat dan seimbang.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































