Sering Dianggap Sepele, Ini Ragam Panu yang Bisa Ganggu Penampilan

panu
ilustrasi panu. Foto: Shutterstock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Bercak panu di kulit sering kali tampak sepele, tetapi bagi banyak orang, kondisi ini bisa mengganggu kenyamanan hingga rasa percaya diri. Infeksi jamur ini memang tidak selalu tampil dengan bentuk yang sama—warna dan pola bercaknya bisa berbeda-beda, sehingga kerap disalahartikan sebagai masalah kulit lain.

Perlu dipahami, panu bukan satu-satunya infeksi jamur pada kulit. Kondisi seperti kurap atau kandidiasis juga dapat menimbulkan gejala yang mirip. Karena itu, mengenali jenis-jenis panu penting agar tidak keliru dalam penanganan sekaligus mencegah penularan.

Jenis-jenis panu dan cirinya

  1. Panu hipopigmentasi
    Jenis ini ditandai dengan bercak berwarna lebih terang dari kulit sekitar. Kontrasnya biasanya lebih terlihat pada pemilik kulit gelap. Bercak bisa kecil hingga melebar, berbentuk bulat atau oval dengan tepi tidak beraturan, dan terasa sedikit bersisik. Area yang sering terkena antara lain dada, punggung, bahu, dan lengan atas.
  2. Panu hiperpigmentasi
    Kebalikan dari jenis sebelumnya, panu ini muncul sebagai bercak yang lebih gelap. Pada kulit gelap, perubahan warna mungkin tidak terlalu mencolok, tetapi teksturnya terasa berbeda saat diraba. Umumnya muncul di leher, dada atas, punggung, atau lengan, dan dapat meluas perlahan dengan pola tidak beraturan.
  3. Panu eritematosa
    Jenis ini ditandai dengan bercak kemerahan akibat peradangan ringan. Rasa gatal biasanya lebih terasa, terutama saat berkeringat atau setelah aktivitas fisik. Permukaannya bersisik tipis dan mudah iritasi jika sering digaruk. Banyak dialami oleh anak-anak dan remaja aktif.
  4. Panu folikular
    Ciri khasnya berupa bintik-bintik kecil di sekitar folikel rambut. Warnanya bisa putih, kecokelatan, atau kemerahan, dengan tekstur kulit yang terasa agak kasar. Biasanya muncul di lengan, paha, atau kaki, dan dapat menyebar jika tidak ditangani.
Baca Juga :  Geger Indomie di Taiwan: BPOM Turun Tangan, Hasil Uji di Indonesia Nihil EtO

Penyebab dan faktor risiko

Sebagian besar kasus panu dipicu oleh pertumbuhan berlebih jamur Malassezia di kulit. Kondisi ini lebih mudah terjadi pada lingkungan yang panas dan lembap.

Advertisement

Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:

  • Kulit sering berkeringat atau lembap
  • Jarang mengganti pakaian setelah aktivitas
  • Penggunaan pakaian ketat atau tidak menyerap keringat
  • Daya tahan tubuh menurun
  • Penggunaan obat tertentu dalam jangka panjang
  • Iklim tropis seperti di Indonesia
Baca Juga :  Melawan Penuaan dengan Hormon: Terobosan Baru dalam Perawatan Kulit dan Rambut

Cara mencegah panu

Langkah pencegahan sebenarnya cukup sederhana, tetapi perlu konsisten:

  • Mandi setelah berkeringat
  • Mengeringkan tubuh sebelum berpakaian
  • Memakai pakaian berbahan katun yang menyerap keringat
  • Rutin mengganti pakaian
  • Tidak berbagi handuk atau pakaian pribadi
  • Menggunakan sabun atau sampo antijamur jika punya riwayat panu

Waspadai gejala yang mirip

Tak semua bercak di kulit adalah panu. Dalam beberapa kasus, kondisi yang tampak serupa bisa mengarah pada penyakit lain seperti kusta. Perbedaannya, kusta sering menyebabkan mati rasa, kebas, atau kulit tidak berkeringat di area tertentu—berbeda dengan panu yang biasanya gatal dan bersisik.

Meski tergolong tidak berbahaya, panu tetap perlu ditangani sejak dini. Penanganan yang tepat bukan hanya mencegah penyebaran bercak, tetapi juga membantu menjaga kesehatan kulit dan rasa percaya diri. Jika kondisi sering kambuh atau sulit dikenali, konsultasi dengan dokter menjadi langkah yang bijak.***

Editor : Syafira

Sumber : alodokter.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel