Ledakan Ikan Sapu-sapu di Jakarta Ancam Ekosistem, Pakar Minta Penanganan Terpadu

ikan sapu-sapu
ilustrasi ikan sapu-sapu. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ledakan populasi ikan sapu-sapu di sejumlah perairan Jakarta kini menjadi perhatian serius. Di balik kemunculannya yang kian masif, spesies ini dinilai mengancam keseimbangan ekosistem sekaligus menyimpan risiko bagi kesehatan manusia.

Peneliti Pusat Riset Biosistematika dan Evolusi Badan Riset dan Inovasi Nasional, Gema Wahyu Dewantoro, menjelaskan bahwa ikan sapu-sapu tergolong spesies invasif. Kehadirannya mampu mendesak populasi ikan lokal, ditambah dengan kemampuan berkembang biak yang sangat cepat.

“Dagingnya diduga mengandung logam berat sehingga dapat berdampak negatif apabila dikonsumsi dalam jangka panjang,” katanya, dikutip dari detik.com.

Advertisement

Fenomena ini bukan sekadar persoalan jumlah, melainkan juga soal dampak berantai terhadap lingkungan. Di perairan seperti Sungai Ciliwung, ikan sapu-sapu tumbuh tanpa kendali karena minimnya predator alami.

Pakar perikanan dari IPB University, Charles PH Simanjuntak, menilai penanganan spesies ini tidak bisa dilakukan dengan satu cara saja. Diperlukan pendekatan terpadu yang mencakup pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis.

Baca Juga :  BIGHIT MUSIC Umumkan Jadwal Tur Dunia BTS, Jakarta Muncul di Penutup Tahun

“Cara yang paling efektif adalah menggabungkan beberapa metode secara terpadu. Mulai dari pencegahan, penangkapan, hingga kontrol biologis,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya regulasi, terutama dalam perdagangan ikan hias yang menjadi salah satu jalur penyebaran spesies ini ke perairan umum.

“Pemprov Jakarta perlu memperkuat regulasi perdagangan ikan hias dan meningkatkan kesadaran masyarakat agar tidak melepas ikan sapu-sapu ke perairan alami, baik sengaja maupun tidak,” tambahnya.

Dalam kondisi populasi yang sudah tinggi, strategi penangkapan pun perlu dilakukan secara selektif. Ikan berukuran kecil dinilai lebih efektif untuk ditekan jumlahnya karena berada pada fase pertumbuhan awal.

“Karena itu, perlu dilakukan secara sistematis di sepanjang aliran sungai. Ikan sapu-sapu yang telah ditangkap juga perlu dimusnahkan untuk mengurangi jumlahnya,” sarannya.

Baca Juga :  Tersinggung Ucapan Pejabat, Warga Babakan Pasar Protes Pasang Banner "Bukan Kampung Yatim"

Selain itu, pendekatan teknologi seperti environmental DNA (eDNA) dapat dimanfaatkan untuk mendeteksi keberadaan ikan sejak dini sebelum populasinya meledak.

Upaya lain yang bisa dilakukan adalah memanfaatkan predator alami ikan lokal seperti baung dan betutu, khususnya untuk memangsa ikan sapu-sapu pada fase juvenil. Selama ini, ketiadaan predator menjadi salah satu faktor utama sulitnya pengendalian populasi.

“Tidak adanya predator spesifik di ekosistem seperti Sungai Ciliwung menjadi alasan utama mengapa ikan ini sangat sulit dikendalikan,” ungkapnya.

Di sisi lain, Charles mengingatkan agar ikan sapu-sapu tidak dijadikan bahan konsumsi, terutama jika berasal dari perairan yang tercemar.

“Tidak direkomendasikan jika berasal dari perairan tercemar berpotensi mengandung logam berat, sehingga tidak direkomendasikan untuk dikonsumsi,” tegasnya.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel