
TIMETODAY.ID, BOGOR – Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) meninta pemerintah mengubah cara mengukur keberhasilan penyelenggaraan mudik Lebaran. Kelancaran arus lalu lintas dinilai tidak lagi relevan dijadikan satu-satunya tolok ukur, selama mayoritas pemudik masih enggan beralih ke transportasi umum.
Dewan Penasihat MTI sekaligus akademisi Prodi Teknik Sipil Universitas Katolik Soegijapranata, Djoko Setijowarno, menyatakan pemerintah perlu segera mendefinisikan ulang parameter keberhasilan mudik nasional yang selama ini dinilai terlalu terpaku pada kondisi jalan.
“Tolak ukurnya bukan lagi sekadar kelancaran lalu lintas, tapi sejauh mana pemudik beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi umum,” ujar Djoko, Jumat (27/3/2026).
Desakan MTI itu merujuk pada data Survei Angkutan Lebaran 2026 Kementerian Perhubungan yang menunjukkan dari 143,9 juta pemudik yang diprediksi bergerak tahun ini, sebanyak 69,72 persen atau sekitar 100,32 juta orang masih mengandalkan kendaraan pribadi. Mobil pribadi mendominasi dengan porsi 52,98 persen, sementara sepeda motor menyumbang 16,74 persen.
Di sisi transportasi umum, bus menjadi moda yang paling banyak dipilih dengan 16,22 persen atau sekitar 23,34 juta penumpang, diikuti kapal penyeberangan, pesawat, dan kereta api antarkota.
Djoko mengakui pembangunan Tol Trans Jawa dari Jakarta hingga Surabaya serta rekayasa lalu lintas seperti contraflow dan one way terbukti efektif mengurai kepadatan di koridor utama. Namun, capaian itu dianggapnya baru menyentuh permukaan persoalan.
Persoalan sesungguhnya, menurut Djoko, terletak pada lemahnya layanan transportasi umum di daerah tujuan mudik. Ketiadaan konektivitas yang memadai membuat masyarakat tidak punya pilihan selain membawa kendaraan pribadi hingga ke kampung halaman.
“Tanpa konektivitas yang memadai, masyarakat merasa kendaraan pribadi adalah pilihan paling praktis untuk mobilitas di kampung halaman,” katanya.
Djoko mendorong pemerintah menjadikan integrasi transportasi umum hingga ke daerah sebagai prioritas jangka panjang, sehingga perubahan perilaku perjalanan masyarakat saat Lebaran tidak sekadar wacana.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































