
TIMETODAY.ID, JAKARTA – Kanker merenggut Leonid Radvinsky (43), pemilik platform langganan konten dewasa OnlyFans. Kepergian miliarder berkebangsaan Ukraina-Amerika itu meninggalkan tanda tanya besar, siapa yang akan mengendalikan perusahaan senilai 8 miliar dollar AS atau sekitar Rp 128 triliun yang tengah berada di ujung negosiasi penjualan terbesar dalam sejarahnya.
Perusahaan mengumumkan kabar duka itu secara resmi, Senin, 23 Maret 2026.
Radvinsky dikabarkan sedang merundingkan penjualan 60 persen saham OnlyFans sebelum ajal menjemputnya. Transaksi itu, bila tuntas, akan mendongkrak valuasi perusahaan hingga 8 miliar dollar AS. Kini, negosiasi tersebut tergantung tanpa kepastian. Satu-satunya jangkar yang tersisa adalah badan wali amanat (trust) yang ia bentuk pada 2024 untuk menampung kepemilikan sahamnya, langkah yang kini menjadi tumpuan utama keberlangsungan bisnis pasca kepergiannya.
Radvinsky lahir di Odesa, Ukraina, dan tumbuh besar di Chicago. Lulusan ekonomi Universitas Northwestern itu dikenal sebagai wirausahawan digital sejak usia remaja. The Guardian, Rabu (25/3/2026), melaporkan bahwa ia sudah mengelola sejumlah situs web sejak belia sebelum akhirnya mengakuisisi Fenix International Limited, perusahaan induk OnlyFans pada 2018.
Akuisisi itu mengubah segalanya. Di tangan Radvinsky, OnlyFans bertransformasi dari platform pinggiran menjadi fenomena ekonomi digital global. Pandemi Covid-19 menjadi katalisnya: jutaan kreator konten berbondong-bondong bergabung, mencari penghasilan langsung dari basis pelanggan mereka. Perusahaan memotong 20 persen dari setiap transaksi, sementara 80 persen sisanya menjadi hak penuh kreator.
Hingga Mei 2025, kekayaan bersih Radvinsky ditaksir mencapai 3,8 miliar dollar AS.
Meski identik dengan konten dewasa, OnlyFans di era Radvinsky tumbuh melampaui stigma yang melekat. Para pelaku kebugaran, fotografer, perias, sejumlah atlet Olimpiade, hingga tenaga pengajar tercatat menggunakan platform ini sebagai sumber penghasilan tambahan.
Manajemen perusahaan kerap menegaskan bahwa misi utama mereka adalah memberdayakan kreator khususnya perempuan agar dapat berkarya dalam lingkungan daring yang aman dengan kendali penuh atas karya dan pendapatan mereka.
Namun perjalanan itu tak selalu mulus. Pada 2021, OnlyFans sempat mengumumkan pelarangan konten dewasa eksplisit sebelum keputusan itu dibatalkan dalam waktu singkat akibat gelombang protes keras dari komunitas kreator. Kritik soal keamanan konten dan potensi eksploitasi juga tak pernah benar-benar reda.







































