TIMETODAY.ID, JAKARTA — Perbedaan penetapan Hari Raya Idul Fitri kembali terjadi pada 1447 Hijriah. Namun, Muhammadiyah menegaskan bahwa perbedaan tersebut bukan bentuk ketidaktaatan terhadap pemerintah.
Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, menyampaikan bahwa perbedaan waktu perayaan Lebaran merupakan hal yang sudah lazim terjadi. Ia menekankan bahwa umat Islam yang merayakan Idul Fitri lebih awal maupun yang mengikuti keputusan pemerintah tetap berada dalam koridor ketaatan.
Menurutnya, ketaatan kepada pemerintah tidak harus dimaknai sebagai keseragaman dalam penentuan hari raya. Ia melihat adanya kecenderungan narasi yang menganggap kelompok yang lebih dahulu merayakan Lebaran sebagai tidak patuh, padahal masing-masing memiliki dasar yang kuat.
Muhadjir menjelaskan, perbedaan tersebut muncul dari metode yang digunakan dalam menentukan awal bulan Hijriah. Muhammadiyah, kata dia, menggunakan pendekatan hisab melalui Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT), yang mengacu pada posisi hilal secara global, bukan hanya pada satu wilayah tertentu.
Dalam konsep tersebut, jika hilal sudah terlihat di satu bagian dunia, maka penanggalan itu berlaku secara internasional. Tahun ini, kata Muhadjir, kemunculan hilal terdeteksi di wilayah Alaska, sehingga dijadikan dasar penetapan awal Syawal secara global.
Sementara itu, pemerintah Indonesia menetapkan 1 Syawal berdasarkan hasil sidang isbat yang mengombinasikan metode hisab dan rukyat atau pengamatan langsung hilal di wilayah Indonesia.
Perbedaan pendekatan ini, menurut Muhadjir, seharusnya tidak menjadi sumber perdebatan yang berkepanjangan. Ia mengajak masyarakat untuk melihatnya sebagai bagian dari dinamika ijtihad dalam praktik keagamaan.
Di tengah perbedaan tersebut, umat Islam tetap menjalankan ibadah dengan keyakinan masing-masing, seraya menjaga toleransi dan saling menghormati dalam merayakan hari kemenangan.***
Editor : Syafira
Sumber : iNews.id
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































