TIMETODAY.ID, JAKARTA — Bagi banyak perempuan, perubahan suasana hati yang tiba-tiba, munculnya jerawat tanpa sebab yang jelas, mudah lelah, hingga nyeri saat menstruasi merupakan hal yang cukup sering dialami.
Berbagai keluhan tersebut kerap dikaitkan dengan kondisi ketidakseimbangan hormon dalam tubuh.
Belakangan ini, media sosial seperti Instagram dan TikTok ramai membahas berbagai cara yang diklaim dapat membantu menyeimbangkan hormon.
Mulai dari pola makan yang disesuaikan dengan siklus menstruasi, konsumsi biji-bijian tertentu, hingga menu khusus seperti salad hormon dan smoothies penyeimbang hormon yang disebut-sebut mampu membantu tubuh kembali seimbang.
Namun di balik berbagai resep viral tersebut, muncul pula pola makan yang lebih terstruktur, salah satunya Hormone Reset Diet.
Diet ini menjadi salah satu topik yang sering dibicarakan dalam diskusi tentang kesehatan hormon. Pola makan tersebut disebut dapat membantu menyeimbangkan hormon melalui pengaturan jenis makanan yang dikonsumsi.
Meski demikian, sejumlah klaim mengenai tren diet hormon ini masih memiliki dukungan ilmiah yang terbatas.
Banyak ahli mengingatkan bahwa meskipun makanan berbasis bahan utuh umumnya baik bagi tubuh, klaim yang menjanjikan solusi untuk berbagai masalah kesehatan sekaligus tetap perlu disikapi dengan hati-hati.
Dalam bukunya The Hormone Reset Diet, dokter sekaligus ginekolog Dr. Sara Gottfried menjelaskan bahwa mengurangi konsumsi gula, alkohol, produk susu, serta makanan olahan dalam jangka waktu tertentu dapat membantu menyeimbangkan hormon.
Sementara itu, Sahar Bejis, pendiri Inner Health & Wellness, menilai bahwa diet hormon seharusnya lebih bersifat mendukung tubuh, bukan justru membatasi terlalu banyak jenis makanan.
Menurutnya, kebutuhan nutrisi tubuh tetap harus terpenuhi melalui pola makan yang tepat, sekaligus dibarengi dengan upaya mengurangi stres.
Seperti dikutip dari The Everygirl, pola makan yang bertujuan menyeimbangkan hormon juga akan lebih efektif jika dikombinasikan dengan manajemen stres yang baik. Hal ini karena hormon kortisol yang meningkat saat stres dapat memengaruhi berbagai sistem tubuh lainnya.
Jika seseorang sudah menerapkan pola makan sehat namun masih mengalami stres berlebihan, hasil diet tersebut kemungkinan tidak akan optimal.
“Diet dengan tujuan mereset hormon akan lebih efektif jika disesuaikan dengan kondisi masing-masing individu,” ujar Bejis.
Dalam praktiknya, beberapa perubahan sederhana dapat membantu menjaga keseimbangan hormon. Misalnya dengan mengganti daging olahan dengan sayuran yang kaya serat.
Konsumsi gula dan karbohidrat olahan juga dapat diganti dengan lemak sehat serta protein agar energi tubuh dan kadar insulin lebih stabil.
Selain itu, mengurangi camilan olahan yang tinggi fruktosa juga dianjurkan. Kandungan tersebut dapat memengaruhi hormon leptin yang berperan dalam mengatur nafsu makan. Menghindari alkohol juga disebut dapat membantu menjaga kadar estrogen tetap stabil dalam tubuh.
Sejumlah penelitian memang menunjukkan bahwa makanan tertentu dapat memengaruhi produksi dan fungsi hormon. Meski demikian, pola makan tetap perlu dijalankan secara seimbang.
Beberapa kebiasaan yang sering dilakukan saat diet justru dapat berdampak buruk, misalnya makan dalam porsi yang terlalu sedikit. Kebiasaan ini dapat mengganggu keseimbangan hormon, memperlambat metabolisme, dan membuat tubuh lebih mudah merasa lelah.
Menghilangkan karbohidrat sepenuhnya juga tidak dianjurkan. Kondisi tersebut dapat meningkatkan hormon kortisol dan membuat kadar gula darah menjadi tidak stabil.
Selain itu, melewatkan protein saat sarapan juga dapat memengaruhi regulasi nafsu makan dan kadar insulin. Tanpa asupan protein yang cukup, tubuh cenderung lebih cepat lapar dan mudah lelah.
Pada akhirnya, para ahli menekankan bahwa pola makan sehat perlu dibarengi dengan gaya hidup yang seimbang. Kebiasaan sederhana seperti berjemur di pagi hari, mengatur pernapasan, berolahraga ringan, serta menjaga kualitas tidur dapat membantu tubuh menjadi lebih rileks dan mengurangi stres.
“Tidur yang teratur dan banyak melakukan relaksasi merupakan cara paling efektif untuk membantu menyeimbangkan hormon,” kata Bejis.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel








































