TIMETODAY.ID, SIDNEY – Harga minyak dunia bergejolak hebat, Senin (9/3/2026). Minyak Brent melonjak 17 persen menjadi 108,77 dollar AS per barel, mencatatkan kenaikan harian terbesar sejak awal pandemi 2020, sementara minyak mentah AS melonjak 18 persen ke level 107,56 dollar AS per barel. Lonjakan ini terjadi setelah keduanya sudah lebih dulu naik tajam pada pekan sebelumnya, dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah yang belum menunjukkan tanda-tanda mereda.
Kepala ekonom JPMorgan, Bruce Kasman, memperingatkan bahwa konflik yang berkepanjangan berpotensi mendorong harga minyak melampaui 120 dollar AS per barel dan meningkatkan risiko resesi di tingkat global. Ia menilai kondisi ini dapat memangkas pertumbuhan ekonomi global sekitar 0,6 persen secara tahunan pada paruh pertama tahun ini, sekaligus mendorong inflasi konsumen naik sekitar 1 persen.
Kekhawatiran itu semakin menguat setelah Iran menunjuk Mojtaba Khamenei sebagai penerus pemimpin tertinggi Ali Khamenei. Penunjukan tersebut mengisyaratkan kelompok garis keras masih memegang kendali di Teheran, sekitar sepekan setelah konflik terbuka dengan Amerika Serikat dan Israel. Langkah itu diperkirakan tidak akan disambut baik oleh Presiden AS Donald Trump, yang sebelumnya menyebut putra Ali Khamenei itu sebagai sosok yang “tidak dapat diterima.”
Tanpa sinyal meredanya konflik dan dengan kapal tanker yang masih enggan melintasi Selat Hormuz, investor memperkirakan biaya energi akan bertahan tinggi dalam waktu lama. Dalam skenario jangka pendek, Kasman memproyeksikan harga minyak berpotensi mendekati 120 dollar AS per barel sebelum mereda jika konflik mulai turun. Namun tanpa penyelesaian politik yang jelas, harga minyak Brent diperkirakan bertahan di kisaran 80 dollar AS per barel hingga pertengahan tahun.
Gejolak harga energi itu langsung merambat ke pasar saham Asia. Indeks Nikkei Jepang anjlok 6,2 persen, memperpanjang pelemahan 5,5 persen pada pekan sebelumnya. Pasar saham Korea Selatan terkoreksi 7,3 persen setelah kehilangan lebih dari 10 persen sepanjang pekan lalu.
Di Wall Street, kontrak berjangka S&P 500 melemah 1,8 persen dan Nasdaq turun 2,1 persen. Eropa pun tak luput, dengan kontrak berjangka EUROSTOXX 50 dan DAX masing-masing melemah sekitar 2,5 persen. Di tengah kepanikan itu, permintaan terhadap dolar AS meningkat karena investor beralih ke aset yang dianggap lebih likuid dan aman.





































