TIMETODAY.ID, JAKARTA — Nama Alysa Liu mendadak menjadi sorotan dunia seluncur es setelah mencetak sejarah di Olimpiade Musim Dingin Milano Cortina 2026. Atlet berusia 20 tahun itu sukses mengakhiri penantian panjang Amerika Serikat selama 24 tahun dengan meraih medali emas nomor free skate.
Prestasi tersebut bukan hanya menjadi kemenangan pribadi, tetapi juga simbol kebangkitan tim seluncur es Amerika Serikat di panggung Olimpiade Musim Dingin. Namun di balik keberhasilan itu, kisah kehidupan pribadi Alysa ikut menarik perhatian publik setelah diungkap oleh sang ayah, Arthur Liu.
Arthur mengungkapkan bahwa kelima anaknya, termasuk Alysa, lahir melalui program ibu pengganti dan donor sel telur anonim. Praktik ibu pengganti atau surrogate mother merupakan proses ketika seorang perempuan bersedia mengandung dan melahirkan bayi untuk calon orang tua melalui kesepakatan tertentu.
Kisah tersebut sempat menjadi pertanyaan bagi Alysa sendiri saat ia mulai memahami identitas dan latar belakang keluarganya. Ia pernah mempertanyakan kepada ayahnya mengenai silsilah keluarga, termasuk alasan dirinya merasa berbeda secara fisik.
“Alysa dan seorang temannya hampir berhasil memecahkannya sendiri. Jadi dia tidak terkejut ketika saya memberitahunya,” kata Arthur Liu.
Dalam perjalanan tumbuh kembangnya, Alysa dibesarkan oleh Arthur bersama Shu serta seorang teman dekat keluarga yang turut membantu merawat anak-anaknya. Keputusan menggunakan ibu pengganti diambil Arthur karena keinginannya memiliki anak saat usianya telah memasuki 40 tahun.
Bakat Alysa di dunia seluncur es sebenarnya sudah terlihat sejak usia dini. Ia mulai aktif mengikuti kompetisi sejak berusia 10 tahun dan perlahan berkembang menjadi salah satu atlet andalan Amerika Serikat.
Pelatih pertamanya, Lipetsky, menggambarkan Alysa sebagai sosok atlet muda dengan kecerdasan emosional tinggi serta pemahaman kuat terhadap proses latihan.
“Alysa adalah gadis yang sangat cerdas, dan dia tahu apa yang cocok untuknya,” ujar Lipetsky.
Ia menambahkan bahwa hubungan kepercayaan antara pelatih, atlet, dan keluarga menjadi faktor penting dalam perjalanan karier Alysa.
“Dia sangat memahami saya, dan dia serta ayahnya mempercayai saya. Saya tahu kapan harus memberinya hari-hari yang santai dan kapan harus mendorongnya. Hal itu telah terbukti dari hasilnya,” tutupnya.
Kini, di usia muda, Alysa Liu bukan hanya dikenal sebagai atlet peraih emas Olimpiade, tetapi juga sebagai simbol generasi baru olahraga dunia—menggabungkan prestasi, keberanian, serta kisah keluarga modern di balik perjalanan menuju podium tertinggi.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































