
TIMETODAY.ID, BOGOR – Kubah putih itu berdiri anggun di antara hijaunya pepohonan Desa Tajur. Dari kejauhan, siluetnya mengundang Tanya, seolah potongan langit India tiba-tiba hinggap di kaki Gunung Pangrango. Inilah Masjid Budi Guna, sebuah karya arsitektur religi yang diam-diam mulai mengubah wajah Kecamatan Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.
Selasa (17/2/2026) siang, langit Kabupaten Bogor cerah. Di halaman Pondok Pesantren tempat masjid itu berdiri, suara angin dan gemericik air menjadi iringan yang tak kasat mata. Satu kubah besar mendominasi bagian tengah bangunan, dilingkari kubah-kubah kecil yang berjajar rapi seperti penjaga setia. Sebuah menara menjulang di sisi bangunan, mempertegas kesan megah yang tak bisa sepenuhnya ditangkap lewat foto.
Bagi siapa pun yang pertama kali melihatnya, pertanyaan yang sama akan muncul. apakah ini benar-benar ada di Indonesia?
“Unik ya, karena sejauh ini di Indonesia belum ada bangunan masjid seperti ini. Adanya di India, makanya dibilang unik, karena bisa dibilang satu-satunya di Bogor masjid seperti ini,” ujar Ustaz Zidan Juniar (18), salah satu pengurus masjid.
Masjid bergaya Taj Mahal dengan sentuhan Timur Tengah ini mulai dibangun pada 2022. Warna putih yang mendominasi seluruh bangunan bukan sekadar pilihan estetika, ia memancarkan kesan kesucian yang selaras dengan fungsi masjid sebagai ruang ibadah dan pendidikan.
Namun di balik kemegahan arsitekturnya, Masjid Budi Guna menyimpan kedalaman yang tidak tampak dari luar. Nama yang dipilih bukan sembarang nama.
“Budi” merujuk pada akhlak, pada kesadaran bahwa manusia hidup berdampingan dengan sesama, dengan hewan, dengan tumbuhan. Para santri di pondok ini diajarkan untuk duduk, merenung, dan memahami bagaimana cara merawat alam serta makhluk hidup di sekitarnya. Sementara “Guna” bermakna kebermanfaatan, bahwa ilmu yang diperoleh seorang santri tidak boleh berhenti di dalam dirinya sendiri.
“Jadi santri itu harus berguna, bukan hanya di bidang ilmu tapi bisa di bidang manapun, buat masyarakat dan umat beragama semuanya,” jelas Zidan.
“Makanya disebut Budi Guna, berbudi dan berguna,” tambahnya.
Dua kata. Delapan huruf. Namun di dalamnya tersimpan cita-cita besar, mencetak generasi yang tidak hanya hafal kitab, tetapi juga mampu menjadi rahmat bagi semesta.
Meski berada dalam lingkungan pondok pesantren, pintu Masjid Budi Guna terbuka untuk siapa saja. Pengunjung dari luar hanya diminta untuk menjaga adab dan mengenakan pakaian yang sopan, sebuah syarat yang justru menegaskan bahwa keindahan bangunan ini dirancang untuk dinikmati, bukan sekadar dipandang dari balik pagar.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































