Korut Perkuat Nuklir dan ICBM, Ancaman Kini Tak Lagi Hanya Regional

Korut
Korea Utara kini menghadirkan ancaman nuklir yang lebih kompleks, tidak sekadar kuantitas hulu ledak, tapi juga teknologi ICBM. Foto: KCNA via AP

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ancaman nuklir Korea Utara (Korut) kini tak hanya soal jumlah hulu ledak, tetapi juga kemajuan teknologi rudal balistik antarbenua (ICBM) yang terus berkembang pesat. Presiden Korea Selatan (Korsel) Lee Jae Myung memperingatkan, kemampuan nuklir Korut kini semakin mengkhawatirkan dunia.

“Material nuklir yang mampu memproduksi 10 hingga 20 senjata nuklir per tahun terus diproduksi, dan teknologi ICBM masih berkembang,” ujar Lee dalam pernyataannya di Seoul, Selasa (27/1/2026).

Menurut Lee, kemajuan teknologi ICBM membuat ancaman Korut tak lagi terbatas di Semenanjung Korea, tetapi berpotensi menjangkau target lintas benua.

Advertisement

Dengan kemampuan membawa hulu ledak jarak jauh, Korut semakin mendekati status sebagai kekuatan nuklir yang memiliki daya gentar global.

Baca Juga :  Kasus Penciuman Jin BTS Dihentikan: Insiden Fan Meeting dan Tantangan Penyidikan Polisi

Situasi ini mendorong Seoul untuk menyesuaikan pendekatan. Lee menekankan perlunya strategi pragmatis dan realistis, bukan hanya mengandalkan tekanan militer atau sanksi ekonomi yang selama ini dianggap kurang efektif.

Ia mengusulkan peta jalan tiga fase untuk perlucutan senjata nuklir Korut, dimulai dengan penghentian produksi material nuklir baru, mencegah transfer material ke luar negeri, dan menghentikan pengembangan teknologi ICBM.

“Jika tidak ada lagi material nuklir tambahan dan teknologi ICBM berhenti dikembangkan, itu sudah menjadi kemajuan besar,” kata Lee.

Baca Juga :  Rudy Susmanto Sebut Setelah Ratusan Tahun Mahkota Binokasih Kembali Ke Kabupaten Bogor

Selain isu nuklir, Lee juga berencana menghidupkan kembali perjanjian militer 2018 yang ditandatangani Presiden Moon Jae In dan Pemimpin Korut Kim Jong Un.

Perjanjian ini sebelumnya bertujuan mencegah bentrokan militer dan membangun kepercayaan, tetapi batal pada 2024 akibat meningkatnya ketegangan.

Pemulihan jalur komunikasi militer dan diplomatik menurut Lee sangat penting untuk mencegah salah perhitungan yang bisa memicu konflik terbuka.

Presiden Korsel itu juga menegaskan komitmennya melibatkan Amerika Serikat dalam upaya menghidupkan kembali dialog yang telah lama terhenti, sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas regional dan global.***

Editor : Syafira

Sumber : iNews.id

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel