Tren Minuman Sehat: Benarkah Blue Matcha Lebih Baik dari Matcha Hijau?

Matcha
ilustrasi Blue Matcha. Foto: istock

TIMETODAY.ID, JAKARTA Matcha kini bukan sekadar minuman, tetapi juga simbol gaya hidup sehat bagi generasi muda. Dari milenial hingga Gen Z, minuman ini populer sebagai alternatif kopi atau minuman manis, sekaligus mencerminkan pilihan hidup yang lebih sadar kesehatan.

Biasanya, matcha berwarna hijau dan dibuat dari daun teh hijau yang digiling halus, kaya akan kafein dan katekin seperti epigallocatechin gallate (EGCG).

“Katekin teh hijau dikaitkan dengan efek metabolik seperti peningkatan sensitivitas insulin dan pengendalian kadar glukosa darah,” tulis sejumlah kajian ilmiah, termasuk meta-analisis di The American Journal of Clinical Nutrition.

Advertisement

Namun, tren baru muncul: blue matcha, minuman berwarna kebiruan yang terbuat dari bunga telang (Clitoria ternatea). Meski bebas kafein dan mengandung antioksidan, bukti ilmiah yang menunjukkan efeknya terhadap gula darah masih terbatas.

Apalagi, blue matcha hampir selalu disajikan dengan gula atau sirup tambahan. Hal ini membuat kesan “lebih sehat” kadang lebih dipengaruhi oleh label dan tampilan daripada dampak metaboliknya.

Baca Juga :  Serat Tinggi Jadi Andalan, Chia Seed Dinilai Efektif Bantu Program Diet

Perbedaan kandungan aktif ini memengaruhi respons tubuh terhadap gula darah. Matcha hijau dengan kafein dan katekin dapat membantu mengatur metabolisme glukosa, meski efeknya moderat dan tergantung kondisi individu. Sebaliknya, blue matcha bersifat lebih netral, karena bebas kafein dan efek katekin yang khas tidak ada.

Masalah muncul ketika kedua minuman ini disajikan dengan tambahan gula. Dalam bentuk latte atau minuman siap saji, baik matcha hijau maupun blue matcha dapat mengandung gula setara, bahkan lebih tinggi dibanding minuman manis lain.

Sejumlah kajian di The BMJ menunjukkan bahwa gula tambahan dalam minuman cair diserap cepat oleh tubuh dan dapat memicu lonjakan gula darah, terutama jika dikonsumsi rutin.

Label “minuman sehat” juga bisa menipu. Warna hijau atau biru memberi kesan alami dan aman, sehingga konsumen kurang waspada terhadap gula di dalamnya. Studi tentang health halo effect di Journal of Consumer Research menunjukkan bahwa label sehat sering membuat orang mengonsumsi lebih banyak, meski kandungan gulanya tetap tinggi.

Baca Juga :  "Soft Life": Gaya Hidup Santai yang Jadi Pilihan Gen Z

Bagi orang dengan risiko diabetes, kunci aman bukan pada warna hijau atau biru, melainkan kandungan gula dalam sajian minuman. Matcha hijau maupun blue matcha bisa aman jika diseduh tanpa pemanis atau menggunakan pemanis rendah kalori, serta dikonsumsi dalam porsi terbatas. Jika menambahkan susu, pilih yang rendah gula atau diformulasikan untuk membantu mengontrol lonjakan glukosa.

Dengan perhatian pada komposisi dan frekuensi konsumsi, warna hijau atau biru sebenarnya menjadi hal kedua. Yang utama tetap bagaimana minuman itu diracik dan dinikmati, agar tetap sehat tanpa risiko lonjakan gula darah.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel