
TIMETODAY.ID, BOGOR – Tangan Dede Sukriya sudah terbiasa menyelami kegelapan gorong-gorong. Baginya, saluran air yang kerap luput dari pandangan itu bukan sekadar lubang pembuangan, melainkan cermin perilaku warga yang perlu dijaga kebersihannya.
Sepuluh tahun silam, tepatnya 2015, pria itu memulai ritual yang tak pernah putus, membersihkan gorong-gorong dengan niat tulus sebagai jalan ibadah. Bukan karena tugas, bukan pula karena upah.
“Saya melaksanakan kegiatan ini dengan niat tulus dari hati sebagai salah satu jalan ibadah,” ujar Dede mengenang awal mula pengabdiannya.
Artinya, kurang lebih selama 10 tahun dirinya konsisten menjaga lingkungan di wilayahnya. Sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan temuan mengejutkan.
Di kedalaman gorong-gorong, Dede menemukan cerita yang menyayat. Pecahan botol dan gelas berserakan bagai serpihan harapan yang rapuh. Popok bayi dan popok orang tua menumpuk, menjadi saksi bisu siklus kehidupan yang tak sempat dibuang pada tempatnya. Plastik dan styrofoam bergelimpangan, warisan gaya hidup serba instan yang enggan bertanggung jawab.
“Sampah pecahan kaca dari botol atau gelas, popok bayi, popok orang tua, sampah plastik, hingga styrofoam menjadi jenis sampah yang sering saya temui,” tutur Dede.
Kesabaran Dede tak hanya berhenti pada membersihkan. Ia pun berusaha menutup pintu bagi sampah yang hendak kembali. Dengan kantong sendiri, ia membuat saringan berbahan kawat dan memasangnya di mulut gorong-gorong. Harapannya sederhana, agar saluran air tetap bernafas lega, tak tersumbat oleh sampah yang seharusnya tak pernah ada di sana.
Dedikasi sepuluh tahun itu akhirnya mendapat pengakuan resmi dari Pemerintah Kota Bogor. Pria paruh baya itu mendapat piagam penghargaan. Wajahnya tampak gugup, tangannya meremas-remas angin.
Dede Sukriya tidak pernah membayangkan akan berdiri di hadapan para pejabat. Baginya, membersihkan gorong-gorong adalah rutinitas biasa. Tak ada bayaran, tak ada pujian. Yang ada hanya kepuasan melihat air mengalir lancar dan lingkungan sekitar terbebas dari genangan.
Wali Kota Bogor, Dedie A Rachim menyebut Dede Sukriya sebagai sosok inspiratif, seorang pegiat lingkungan yang bekerja tanpa pamrih.
“Saya salut dan bangga kepada Dede Sukriya. Bayangkan, bebersih sorangan (sendiri), tidak digaji. Kita semua bangga kepada Dede Sukriya,” kata Dedie di hadapan ratusan undangan.
Namun, di balik rasa bangga itu, ada keprihatinan. Dedie mengakui bahwa tidak semua warga mengapresiasi apa yang dilakukan Dede. Bahkan, ada yang justru cuek, membuang sampah sembarangan sesaat setelah gorong-gorong dibersihkan.
“Itu yang membuat saya sedih. Masih banyak yang belum sadar,” ujar sang wali kota.




































