TIMETODAY.ID, BOGOR — Empat pesawat tanpa awak (drone) karya peneliti Indonesia diuji terbang di Lanud Rumpin, Kabupaten Bogor, sebagai bagian dari upaya mengembangkan teknologi nasional untuk pemetaan dan pengawasan wilayah.
Uji terbang yang dilakukan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) melalui Pusat Riset Teknologi Penerbangan (PRTP) berlangsung selama tiga hari dan menjadi tahap penting untuk menguji performa serta keandalan sistem masing-masing drone.
Salah satu drone yang menarik perhatian adalah LSU-02 VTOL, yang mampu lepas landas dan mendarat secara vertikal tanpa membutuhkan landasan panjang. Dalam pengujian, LSU-02 VTOL terbang pada ketinggian sekitar 300 kaki dengan kecepatan 53 knot selama delapan menit.
“Hasil uji terbang menunjukkan performa dan sistem VTOL berfungsi sesuai harapan. Pesawat ini memang dirancang untuk mendukung misi pengawasan wilayah dan pemetaan area,” ujar Peneliti Ahli Muda PRTP BRIN, Danartomo Kusumoaji, Jumat (26/12/2025).
Selain LSU-02 VTOL, BRIN juga menguji drone Alap-alap, yang difokuskan pada pengoptimalan sistem autopilot. Drone ini terbang stabil di ketinggian 800 kaki dengan kecepatan 50 knot selama 30 menit.
Sementara Kresna diuji untuk mengevaluasi sistem telemetri, yaitu kemampuan mengirim data penerbangan secara real time ke stasiun kendali di darat, dengan durasi penerbangan 10 menit pada ketinggian 300 kaki.
Pengujian juga dilakukan pada Skywalker, untuk mengidentifikasi karakteristik aerodinamika, termasuk kestabilan dan respons pesawat saat bermanuver di udara. Data dari Skywalker menjadi dasar penyempurnaan desain dan peningkatan performa drone ke depan.
Danartomo menjelaskan, tidak semua drone yang diuji merupakan desain baru. LSU-02 VTOL dan Alap-alap sepenuhnya dikembangkan oleh periset BRIN, mulai dari desain hingga teknologi Flight Control Computer (FCC). Sedangkan Skywalker dan Kresna menggunakan desain pesawat yang sudah ada.
“Untuk Kresna, kami mencontoh desain pesawat Cessna. Tujuannya menguji FCC, maka perlu pesawat dengan karakteristik terbang yang sudah sangat baik. Skywalker digunakan untuk identifikasi parameter aerodinamika, jadi kami memakai pesawat yang sudah ada,” ujarnya.
Uji terbang ini menjadi langkah strategis BRIN dalam memperkuat ekosistem drone nasional.
“Lewat uji terbang ini, kami bisa mengevaluasi performa pesawat sekaligus memastikan seluruh sistem bekerja secara aman dan stabil,” kata Danartomo.
Ke depan, teknologi drone ini diharapkan mendukung berbagai kebutuhan strategis nasional, mulai dari pemetaan hingga pengawasan wilayah.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































