TIMETODAY.ID, JAKARTA — Hari HAM Sedunia kembali diperingati pada 10 Desember 2025 di tengah meningkatnya tekanan terhadap hak asasi manusia di berbagai belahan dunia. Dari konflik bersenjata, ketimpangan sosial, hingga pembatasan kebebasan sipil, peringatan tahun ini menjadi pengingat bahwa kerja perlindungan HAM masih jauh dari selesai.
Tema peringatan tahun ini yang digaungkan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) menekankan pentingnya memperkuat struktur perlindungan HAM global, khususnya bagi kelompok rentan yang menghadapi diskriminasi dan kekerasan.
Di banyak negara, organisasi masyarakat sipil menggelar diskusi, aksi damai, hingga kampanye digital untuk menyoroti kondisi HAM terbaru.
Lembaga-lembaga internasional pun merilis laporan baru yang menunjukkan tren memburuknya situasi HAM dalam dua tahun terakhir—mulai dari pengekangan kebebasan berekspresi, kriminalisasi aktivis, hingga meningkatnya korban sipil akibat konflik bersenjata.
Di Indonesia, sejumlah lembaga seperti Komnas HAM, lembaga advokasi, akademisi, dan jaringan masyarakat mengadakan rangkaian agenda refleksi. Mereka menyoroti isu-isu mendesak, mulai dari kekerasan terhadap perempuan dan anak, perampasan tanah masyarakat adat, hingga perlindungan pekerja migran.
Pemerintah Indonesia turut menyampaikan komitmennya memperkuat pelayanan publik dan akses keadilan bagi masyarakat. Dalam pernyataan resminya, pemerintah menekankan pentingnya peningkatan sistem penegakan hukum yang “berbasis pada penghormatan martabat manusia”, serta memperluas ruang dialog antara negara dan masyarakat.
Perwakilan PBB di Indonesia menyatakan bahwa Hari HAM Sedunia harus menjadi momentum “memperbarui komitmen politik, memperkuat lembaga, dan memastikan tak ada satu pun kelompok yang tertinggal dalam akses terhadap hak-haknya”.
Sejumlah aktivis HAM menegaskan bahwa tantangan 2025 memerlukan solusi yang lebih konkret.
Mereka menekankan bahwa perlindungan HAM tidak cukup berhenti pada deklarasi atau seremoni, melainkan membutuhkan kebijakan tegas dan mekanisme pengawasan yang kuat. Kondisi global saat ini—mulai dari perang, perubahan iklim, hingga keterbelakangan ekonomi—menjadikan perlindungan HAM sebagai isu lintas sektor yang tak bisa diabaikan.
Di tengah situasi dunia yang semakin kompleks, peringatan Hari HAM Sedunia 2025 menjadi ruang pengingat bahwa nilai-nilai kemanusiaan membutuhkan penjagaan bersama.
Bagi banyak negara dan masyarakat, hari ini bukan hanya seremoni tahunan, melainkan panggilan untuk terus menguatkan solidaritas, memastikan keadilan dapat diakses semua orang, dan menjadikan penghormatan HAM sebagai fondasi pembangunan berkelanjutan.***








































