Senyum Terakhir Arassya yang Tak Pernah Hilang dari Ingatan Warga

Arassya
Nisan sederhana bertuliskan nama M. Arassya Alfarik berdiri di atas tanah merah di pemakaman Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Kamis (23/10/2025). Bocah enam tahun itu meninggal diduga akibat penganiayaan yang dilakukan ibu tirinya. Foto : Amelia Azizah/timetoday.id

TIMETODAY.ID, BOGOR – Sore itu, langit Bojonggede berwarna kelabu. Hujan baru saja berhenti, meninggalkan aroma tanah basah dan udara lembap yang menyelusup hingga ke dalam rumah-rumah warga.

Di bibir gang, di perumahan Griya Citayam Permai Tahap 1, Bojonggede, Kabupaten Bogor, Jawa Barat sebuah warung sederhana bercat putih berdiri, seolah menyimpan kisah yang enggan terucap. Dari warung inilah, Irma (37) untuk terakhir kalinya melihat bocah kecil yang kini tinggal nama, M. Arassya Alfarik.

Bocah enam tahun itu datang seorang diri, berjalan pelan dengan langkah yang nyaris terseok. Tubuhnya ringkih, matanya sayu, namun bibir mungilnya masih berusaha tersenyum saat menyerahkan uang receh untuk membeli jajanan.

Advertisement

Tak ada yang istimewa pada pandangan pertama, kecuali luka-luka yang membekas di tubuhnya, dan tatapan takut yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.

Baca Juga :  Dewan Perdamaian Gaza Perdana Digelar, Trump Siapkan Rencana Rekonstruksi Besar

“Anak itu datang beli jajanan. Dari situ saya langsung salfok sama kondisinya,” kenang Irma ketika ditemui wartawan, Rabu (23/10/2025).

Ia masih ingat jelas bagaimana tubuh bocah itu tampak penuh luka.

“Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Matanya yang kiri berdarah di dalam. Muka lebam, warnanya biru kemerahan. Di kepala belakang ada jendol segede kepalan tangan. Suami saya bilang, itu kayak gumpalan darah,” ujarnya dengan suara yang tertahan.

Dalam rasa iba yang bercampur marah, Irma memberanikan diri bertanya pelan.

“Saya bujuk, saya tanya, ‘Kamu dipukul, ya?’ Dia sempat ngangguk, terus geleng. Waktu saya tanya, ‘Dipukul mamah, ya?’ dia ngangguk cepat terus geleng lagi. Dari situ saya tahu, dia takut,” tutur Irma.

Namun di balik tubuh yang penuh luka, bocah itu masih berusaha tersenyum kecil.

Baca Juga :  Polres Metro Depok Bongkar Makam Bocah Korban Dugaan Penganiayaan Ibu Tiri

“Mukanya pucat, jalannya gak benar, tapi masih bisa senyum. Padahal tulang punggungnya kelihatan menonjol, kayak orang skoliosis,” katanya lirih.

Irma juga melihat bekas luka bakar dan sundutan rokok di tubuhnya.

“Di tangan, kaki, punggung, banyak banget. Tapi ibunya tetap nyuruh dia ke warung. Padahal dia jalan aja udah susah,” ujarnya, menggeleng pelan.

Warga mengenal keluarga Arassya sebagai keluarga yang tertutup. Mereka jarang bergaul dan kerap berpindah kontrakan tanpa banyak bicara.

“Kalau ditegur warga soal anaknya, biasanya pindah. Paling lama dua bulan di satu tempat,” kata Irma.

Kini, wajah pucat bocah itu, senyum samar di tengah luka, dan tatapan mata yang seakan meminta tolong tanpa suara.

“Saya cuma berharap, anak itu dapat keadilan,” ujar Irma pelan.

“Kasihan, masih kecil, tapi disiksa begitu,” tutup Irma.

Editor : B. Supriyadi

Wartawan : Amelia Azizah

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel