
TIMETODAY.ID, BOGOR – Tim Program Kreativitas Mahasiswa Pengabdian Masyarakat IPB University menerapkan metode CBT-Graph melalui terapi interaktif dan relaksasi alam bagi pengidap gangguan jiwa di Yayasan Darul Miftah Mulia, Kecamatan Ciseeng, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, dari 4 Juli hingga 30 September 2025. Metode ini menggabungkan pendekatan Cognitive Behaviour Therapy, ekoterapi, dan gamifikasi.
Tim yang diketuai Dhiya Sabilaah bersama empat anggota, yakni Hanawuri Nahari Johar, Farhana Ginanti, Marja Kirana, dan Nabila Zahra, melaksanakan program “Sejiwa: Pendampingan Pengobatan Nonmedis dengan Terapi Interaktif dan Relaksasi Alam Berbasis CBT-Graph bagi Pengidap Gangguan Jiwa” di bawah bimbingan Dr Puji Rianti.
Dhiya mengatakan, penggunaan tiga metode berbeda dalam CBT-Graph menjadi salah satu solusi menangani orang dengan gangguan jiwa (ODGJ). Program ini telah disepakati ketua dan pengurus yayasan sebagai solusi menyelesaikan masalah di yayasan tersebut.
“Dengan terapi interaktif dan relaksasi alam, nantinya dapat membantu ODGJ dalam berinteraksi, berekspresi, dan berkomunikasi dengan sekitar, setidaknya dengan teman-teman dan para pengurus,” kata Dhiya, Jumat (10/10/2025).
Pendekatan yang diterapkan tim didiskusikan bersama dosen ahli dr Riati Sri Hartini, yang merupakan dosen Fakultas Kedokteran IPB University dengan spesialisasi kedokteran jiwa. Menurut dr Riati, metode CBT-Graph dapat digunakan untuk ODGJ dengan tingkat halusinasi rendah dan gejala-gejala patologis yang mengarah pada depresi dan stres.
Berdasarkan wawancara yang dilakukan, keseluruhan ODGJ cenderung sulit berinteraksi, berekspresi, dan berkomunikasi karena keterbatasan ruang gerak atau program di dalam yayasan. ODGJ juga perlu dilatih kemampuan psikomotorik sebagai salah satu langkah penyembuhan.
Ketua Yayasan Darul Miftah Mulia Bogor, Ustad Ruslan, mengatakan program ini baru pertama kali dilakukan mahasiswa IPB University. Program ini dinilai sangat bermanfaat karena ODGJ merupakan kelompok rentan yang perlu dibantu dan diayomi masyarakat.
“Program ini diharapkan dapat menghilangkan stigma negatif bagi ODGJ, khususnya pandangan seputar ODGJ yang tidak dapat melakukan apa-apa dan cenderung hanya dikurung di dalam ruangan,” ujar Ustad Ruslan.
Program yang berlangsung selama empat bulan ini melakukan berbagai kegiatan, seperti bermain kartu “Sejiwa”, menanam tanaman mint sebagai tanaman relaksasi, membuat bantal aromaterapi dari bahan baku alami, termasuk daun mint kering, serta pembuatan majalah dinding dan pohon kehidupan sebagai media ekspresi.
Tim berharap program ini dapat diteruskan dan menjadi inspirasi bagi yayasan serta komunitas serupa untuk mengadopsi kegiatan tersebut sebagai salah satu pengobatan nonmedis yang membantu penyembuhan kesehatan jiwa.




































