Mitos vs Fakta, Benarkah Capung Bisa Menyengat atau Beracun?

Capung
ilustrasi capung (foto: istock)

TIMETODAY.ID, JAKARTA — Capung, dengan sayap transparan yang berkilau dan warna tubuh yang mencolok, sering membuat orang terpesona sekaligus takut. Julukan seperti “jarum penusuk setan” atau “penyengat kuda” beredar luas di masyarakat karena rahang besar dan perilaku predatornya di udara. Tapi benarkah capung berbahaya bagi manusia?

Ternyata, sebagian besar ketakutan itu hanyalah mitos.

Menurut Discover Wildlife, capung memang bisa menggigit, tetapi jarang menimbulkan luka serius. Mereka adalah predator ulung yang menangkap mangsa terbang menggunakan kaki seperti keranjang, lalu menghabisinya dengan rahang yang kuat.

Advertisement

Namun, manusia bukan target mereka. Capung hanya akan menggigit jika merasa terancam, misalnya saat ditangkap atau digenggam terlalu keras.

“Hanya capung terbesar yang mampu merobek kulit manusia. Kebanyakan spesies capung memiliki rahang yang tidak cukup kuat untuk melukai kulit tebal manusia,” tulis laporan tersebut.

Baca Juga :  Mitos vs Fakta: Apakah Minum Kopi Setiap Hari Berbahaya?

Gigitan capung terhadap manusia biasanya ringan, bahkan hanya menimbulkan sensasi nyeri sesaat atau luka kecil.

Di Indonesia, ada mitos populer bahwa gigitan capung di pusar anak bisa menghentikan kebiasaan mengompol, namun ini sama sekali tidak memiliki dasar medis.

Sebaliknya, tindakan tersebut berisiko menimbulkan iritasi, infeksi, atau trauma psikologis pada anak.

Selain itu, capung tidak bisa menyengat. Ekor panjangnya yang menyerupai prehensil tidak berfungsi seperti sengat lebah atau tawon. Semua perburuan dan pertahanan capung dilakukan melalui rahang dan mulut, bukan ekor. Capung tidak beracun dan tidak dirancang menyerang manusia.

Malah, capung justru sahabat manusia. Mereka adalah pemburu alami nyamuk dan serangga penggigit lain, membantu mengontrol populasi hama.

Baca Juga :  20 Peluang Bisnis Menjanjikan di Tahun 2025, Cocok untuk Pemula!

Dengan penglihatan super tajam terdiri dari hingga 28.000 mata individu—capung bisa mendeteksi gerakan cepat dan terbang lincah ke segala arah.

Selain itu, capung berperan sebagai bio-indikator kualitas air, karena siklus hidupnya bergantung pada habitat perairan yang bersih.

Satu capung dewasa mampu memangsa ratusan nyamuk per hari. Jadi, alih-alih takut, membiarkan capung terbang bebas adalah cara sederhana untuk menjaga keseimbangan alam di sekitar kita.

Kesimpulannya, gigitan capung tidak berbahaya bagi manusia, mereka tidak menyengat, tidak beracun, dan cenderung menghindari interaksi.

Capung bahkan menjadi pahlawan tak terlihat yang menyelamatkan kita dari gigitan nyamuk. Alam selalu punya cara menakjubkan untuk menjaga keseimbangan—dan capung hanyalah salah satu contohnya.***

Editor : Syafira

Sumber : Detik.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel