
TIMETODAY.ID, BOGOR – Sejumlah SPBU Shell di Kabupaten Bogor, Jawa Barat terancam menghentikan operasional akibat keterbatasan pasokan bahan bakar minyak (BBM). Ancaman penutupan ini membuat karyawan resah karena berpotensi kehilangan pekerjaan jika pasokan BBM tidak segera normal.
Seorang petugas SPBU Shell di Kelurahan Sukahati, Kecamatan Cibinong, berinisial M, mengatakan stok BBM saat ini masih tersedia, namun hanya cukup hingga awal Oktober.
“Iya alhamdulillah stok aman tapi sampai awal Oktober saja,” ujar M, Kamis (18/9/2025).
Menurut M, beberapa SPBU Shell di Kota Bogor bahkan sudah kehabisan stok sejak beberapa hari terakhir, membuat karyawan menjadi pihak yang paling terdampak.
“Kalau sampai Oktober belum normal lagi, ya pada nganggur lagi. Bogor kota sudah kosong dari kemarin, yang jadi korban kan karyawannya, kasian,” katanya.
Setiap SPBU memiliki 6–8 pekerja, namun sebagian sudah dirumahkan karena keterbatasan pasokan.
“Yang bertahan paling mekaniknya, kalau bagian depan sudah pada dirumahkan,” tambah M.
Jenis BBM tertentu seperti V-Power kini kosong dari pusat, sehingga SPBU Shell diarahkan membeli pasokan dari Pertamina. Namun, langkah ini dinilai berisiko menurunkan kualitas layanan.
“Iya memang kosong dari pusat. Bayangkan sekarang kita disuruh beli di Pertamina, berarti kalau beli di sana kan sama saja menipu pelanggan,” ujarnya.
M menilai kebijakan pemerintah berdampak besar terhadap nasib pekerja seperti dirinya.
“Bayangkan berapa karyawan yang nganggur gara-gara kebijakan menteri. Bogor saja sudah banyak, Yasmin 6 orang, Semeru 4, Gunung Putri 4, itu baru satu perusahaan,” terangnya.
Jika pasokan BBM tidak normal hingga Oktober, SPBU Shell dipastikan tidak bisa beroperasi.
“Kalau kosong, pasti tidak akan jualan. Shell kalau mau jualan harus beli ke Pertamina. Tapi kalau beli di Pertamina, kualitas kita hilang, hanya bisa memberikan pelayanan saja, kualitas bensinnya tidak sama,” jelasnya.
Sebelumnya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia meminta SPBU swasta yang kekurangan pasokan BBM, termasuk Shell dan BP, berkolaborasi dengan Pertamina untuk memastikan ketersediaan bahan bakar dan mencegah kelangkaan di masyarakat.
“Kenapa? Karena ini terkait dengan hajat hidup orang banyak. Cabang-cabang industri yang menyangkut hajat hidup orang banyak itu tetap harus dikontrol oleh negara, supaya semuanya baik,” ujar Bahlil di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, Senin (15/9/2025).
Bahlil menambahkan, pemerintah telah menambah kuota impor BBM sebesar 10 persen pada tahun ini bagi SPBU swasta untuk mencegah kelangkaan.
“Contoh, 2024 perusahaan A mendapat 1 juta kiloliter, di 2025 kita berikan kuota impor 1 juta kiloliter plus 10 persen, jadi 1,1 juta kiloliter. Sangat tidak tepat kalau dikatakan kuota impornya tidak diberikan,” pungkasnya.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































