
TIMETODAY.ID, BOGOR – Kepala Bidang Tertib Niaga Dinas Perdagangan dan Industri (Disdagin) Kabupaten Bogor, Anton Sujana, mengungkap dua faktor utama yang memicu lonjakan harga ayam potong dari Rp35.000 menjadi Rp40.000 per kilogram dalam sepekan terakhir yang berkontribusi terhadap kenaikan harga ayam broiler.
Kenaikan permintaan masyarakat jelang Maulid Nabi dan mahalnya harga pakan ternak menjadi penyebab utama melonjaknya harga ayam di pasar-pasar tradisional Kabupaten Bogor.
Berdasarkan survei yang dilakukan Disdagin Kabupaten Bogor, eskalasi harga ayam potong terjadi secara merata di berbagai pasar tradisional strategis, termasuk Pasar Cileungsi, Pasar Ciluar, Pasar Ciawi, serta pasar-pasar lainnya yang tersebar di berbagai kecamatan.
Faktor pertama adalah meningkatnya permintaan masyarakat menjelang peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tradisi masyarakat yang biasanya meningkatkan konsumsi daging ayam untuk berbagai acara keagamaan dan syukuran menjadi pendorong utama naiknya permintaan. Faktor kedua adalah naiknya harga pakan ternak yang langsung berdampak pada biaya produksi ayam broiler.
Kenaikan harga pakan ini memaksa peternak untuk menaikkan harga jual untuk mempertahankan margin keuntungan mereka.
“Berdasarkan survei, pertama yang jadi pemicunya karena permintaan masyarakat sendiri, kedua pakan naik,” ungkap Anton, Rabu (17/9/2025).
Peningkatan permintaan ini tidak diimbangi dengan pasokan yang memadai, sehingga terjadi ketidakseimbangan yang berujung pada kenaikan harga.
“Ayam broiler ini dari harga standar Rp35.000 mengalami kenaikan menjadi Rp40.000 hampir rata semua,” tegas Anton.
Merespons kondisi kenaikan harga ini, Anton menegaskan bahwa Disdagin Kabupaten Bogor telah mengambil langkah konkret untuk mengendalikan situasi.
“Disdagin telah melakukan koordinasi dan konsolidasi dengan beberapa distributor terkait bahan pokok penting. Tugas kami sebenarnya menstabilkan harga, namun fokus utama kami adalah menjaga ketersediaan pasokan,” jelas Anton.
Koordinasi ini dilakukan untuk memastikan distribusi ayam potong berjalan lancar dan tidak terjadi penumpukan di satu titik yang dapat memperburuk kondisi pasokan.
Anton menegaskan bahwa fokus utama Disdagin bukan hanya pada stabilisasi harga, tetapi lebih kepada menjaga kontinuitas pasokan.
“Ketersediaan bahan pokok tetap menjadi prioritas kami, karena tujuan kami bukan hanya menstabilkan harga, tetapi juga memastikan pasokan ayam tidak terhambat,” tuntasnya.
Editor : B. Supriyadi
Wartawan : Amelia Azizah
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































