
TIMETODAY.ID, JAKARTA — Ketegangan terasa di ruang sidang Parlemen Eropa pada Kamis (11/9/2025). Ratusan anggota parlemen terlibat dalam pemungutan suara yang menentukan sikap Uni Eropa terhadap isu paling pelik di Timur Tengah: pengakuan Palestina sebagai sebuah negara.
Hasilnya, 305 suara menyatakan setuju, 151 menolak, dan 122 memilih abstain. Angka mayoritas itu cukup untuk melahirkan resolusi bersejarah—seruan resmi kepada negara-negara anggota Uni Eropa agar mengakui Palestina secara diplomatik demi mewujudkan solusi dua negara.
Meski seruan ini bukan yang pertama, resolusi kali ini dinilai lebih tegas. Untuk pertama kalinya, parlemen secara terbuka mendorong pemerintah nasional di tiap negara anggota agar bertindak nyata, bukan sekadar pernyataan politis.
Selain pengakuan, resolusi juga menuntut gencatan senjata permanen di Gaza serta pembebasan tanpa syarat seluruh sandera Israel.
Namun, dalam teks resolusi, parlemen menegaskan bahwa hak Israel membela diri tidak bisa dijadikan alasan atas operasi militer yang “tanpa pandang bulu” terhadap warga sipil.
Peta Pengakuan Palestina di Eropa
Langkah parlemen ini memperlihatkan kembali peta terbelahnya sikap Eropa terhadap Palestina. Negara-negara seperti Bulgaria, Siprus, Hungaria, Polandia, dan Rumania telah mengakui Palestina sejak 1988, jauh sebelum mereka resmi masuk Uni Eropa. Swedia kemudian menyusul pada 2014, diikuti Spanyol, Irlandia, dan Slovenia pada tahun-tahun berikutnya.
Kini, gelombang baru tengah muncul. Prancis, Belgia, Luxemburg, dan Malta berencana mengumumkan pengakuan dalam waktu dekat. Bahkan Presiden Prancis, Emmanuel Macron, sudah menyampaikan janji itu jauh-jauh hari.
“Sesuai dengan komitmen historisnya untuk perdamaian yang adil dan abadi di Timur Tengah, saya telah memutuskan bahwa Prancis akan mengakui Negara Palestina. Saya akan membuat pengumuman resmi di Majelis Umum PBB pada bulan September,” tulis Macron di akun X dan Instagram, akhir Juli 2025 lalu.
Rencana Paris itu memantik reaksi berantai di sejumlah ibu kota Eropa, meski juga menuai kecaman dari Amerika Serikat yang sejak lama menentang langkah sepihak pengakuan Palestina.
Babak Baru Diplomasi?
Resolusi parlemen ini belum berarti pengakuan otomatis dari Uni Eropa. Namun, tekanan politiknya jelas terasa. Para analis menilai, jika negara-negara besar seperti Prancis benar-benar mengambil langkah itu di forum PBB, momentum bisa mengalir cepat dan mengubah konstelasi diplomasi global.
Bagi Palestina, dukungan mayoritas anggota parlemen Eropa memberi harapan baru di tengah konflik yang tak kunjung usai. Sementara bagi Israel dan sekutunya, keputusan ini bisa menjadi babak baru tarik-ulur diplomatik yang lebih intens.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































