TIMETODAY.ID, SANAA — Di tengah ketegangan yang kian memanas di Yaman, suasana Kota Sanaa kembali diguncang. Minggu pagi (31/8/2025), kelompok milisi Houthi menyerbu kantor dua badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) — World Food Programme (WFP) dan UNICEF.
Menurut keterangan resmi kedua lembaga kepada CNN, pasukan keamanan lokal masuk ke kantor mereka tanpa pemberitahuan. Sejumlah pegawai pun ditahan, termasuk seorang staf WFP. Utusan Khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, mengonfirmasi bahwa setidaknya 11 personel PBB kini dalam tahanan Houthi.
Ia mengecam keras peristiwa ini.
“Saya sangat mengecam penahanan tersebut sekaligus penggerebekan paksa ke kantor PBB,” ujar Grundberg.
Nada serupa juga datang dari Sekretaris Jenderal PBB António Guterres. Ia menuntut pembebasan segera seluruh staf yang ditahan.
“Pegawai PBB maupun mitra organisasi kemanusiaan tidak boleh menjadi sasaran penangkapan saat menjalankan tugas. PBB akan terus bekerja tanpa henti untuk memastikan pembebasan semua individu yang ditahan secara sewenang-wenang,” tegas Guterres.
Baik WFP maupun UNICEF mengatakan mereka masih mengumpulkan informasi tambahan dari otoritas setempat.
“Prioritas utama kami adalah keselamatan dan kesejahteraan staf kami,” ujar juru bicara masing-masing lembaga.
Meski belum jelas apakah penggerebekan ini langsung terkait dengan situasi regional, waktunya bertepatan dengan serangan Israel di Sanaa beberapa hari sebelumnya. Pada Kamis (28/8), Perdana Menteri pemerintahan Houthi, Ahmed al-Rahawi, tewas dalam serangan udara Israel bersama sejumlah pejabat senior lain.
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menegaskan operasi itu baru permulaan.
“Kami akan menargetkan semua pejabat senior di Sanaa. Mereka akan membayar harga yang sangat mahal atas agresi mereka terhadap Israel,” kata Netanyahu.
Menteri Informasi pemerintahan Yaman yang didukung PBB, Moammar al-Eryani, juga angkat bicara. Ia mengecam keras tindakan Houthi menyerbu kantor PBB dan menyebutnya sebagai bukti pelanggaran serius terhadap hukum internasional.
Sejak 2014, Yaman memang terpecah dua: di utara, pemerintahan Houthi berkuasa dari Sanaa; sementara di selatan, pemerintahan resmi yang diakui dunia internasional berusaha mempertahankan legitimasi. Kini, dengan Houthi menargetkan badan-badan PBB, ketidakpastian semakin menguat.
Di satu sisi, dunia menanti kabar pembebasan staf PBB. Di sisi lain, bayang-bayang konflik regional antara Israel dan Houthi kian memperkeruh krisis kemanusiaan di Yaman.***
Editor : Syafira
Sumber : CNNIndonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel




































