TIMETODAY.ID, BOGOR – Sepanjang tahun 2025, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Bogor mencatat dua kasus penyakit menular, masing-masing satu kasus campak dan satu kasus rubela. Kedua temuan itu dilaporkan pada Juni 2025.
Kepala Dinkes Kota Bogor, dr. Sri Nowo Retno menegaskan meski jumlahnya relatif kecil, kasus campak dan rubela tetap perlu diantisipasi. Pihaknya mengintensifkan program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) untuk menekan potensi penularan.
“Dengan BIAS, kekebalan seseorang dan kekebalan kelompok diperkuat di lingkungan sekolah, sehingga penularan penyakit menular dapat ditekan signifikan,” ujar Retno, Kamis (28/8/2025).
Dalam satu tahun, sambung Retno BIAS digelar dua kali, yakni bulan Agustus dan November, di seluruh SD dan SMP di Kota Bogor. Tahun ini, program menyasar 357 SD dan 172 SMP.
Retno merinci, sasaran imunisasi mencakup 18.819 anak kelas 1 SD, 8.631 anak perempuan kelas 5, 647 anak perempuan kelas 6, dan 7.927 anak perempuan kelas 9 SMP.
Meski demikian, pelaksanaan imunisasi tidak selalu mulus. Retno mengaku masih ada penolakan dari sejumlah orang tua terkait status halal dan haram vaksin.
“Namun kami terus menyampaikan bahwa BIAS sangat penting untuk melindungi kesehatan anak dari penyakit menular,” tegasnya.
Dengan demikian, Retno mengajak masyarakat untuk bersama-sama memastikan anak-anak menerima imunisasi lengkap dan mendukung pelaksanaan Bulan Imunisasi Anak Sekolah, dengan harapan tercipta generasi yang sehat, kuat, dan bebas dari penyakit menular.





































