Longsor Sampah di Bogor Renggut Nyawa Seorang Pengemudi Buldozer TPA Galuga

TPA
Seorang pengemudi alat berat tewas tertimbun longsoran sampah di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Senin (11/8/2025) pagi. (Foto: Ilham Ariyansyah/Bogor Today)

TIMETODAY.ID, BOGOR — Pagi itu, langit di atas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Galuga, Kecamatan Cibungbulang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat tampak mendung. Di sela bau menyengat sampah yang sudah menjadi keseharian, deru mesin buldozer terdengar memecah kesunyian.

Agus, pengemudi buldozer yang sudah bertahun-tahun bekerja di TPA, tengah menjalankan tugasnya, meratakan gunungan sampah agar truk-truk pengangkut punya ruang baru untuk membuang muatan.

Namun, rutinitas yang biasa dilakoninya berubah menjadi tragedi. Sekitar pukul 09.00 WIB, tumpukan sampah di sisi utara TPA tiba-tiba bergeser. Longsor besar meluncur deras, menelan apa pun yang ada di jalurnya.

Advertisement
Baca Juga :  Bupati Bogor Raih Penghargaan Kepala Daerah Pendukung Baznas di Baznas Awards 2025

Warni, ibu angkat Agus, berada tak jauh dari lokasi saat kejadian. Sambil memulung, ia melihat tanda-tanda longsor pertama.

“Tadi pagi, anak angkat saya, Agus, sedang bekerja. Sepertinya dia tidak bisa lari karena tertutup longsoran sampah,” ujarnya berusaha menahan air mata.

Warni mengaku tidak tahu bahwa Agus menjadi korban hingga petugas memulai proses penggalian.

“Pas saya tahu, ternyata korban itu Agus. Saat ditemukan sudah meninggal dunia,” katanya lirih.

Evakuasi tidak mudah. Sampah setinggi hampir empat meter menutup tubuh Agus dan buldozer yang ia kendarai.

Baca Juga :  Imbas Kenaikan BBM Bersubsidi, Puluhan Mahasiswa di Bogor Ontrog Gedung DPRD Kota Bogor

Butuh dua jam, alat berat, dan bantuan puluhan warga untuk menemukan jasadnya. Buldozer itu ditemukan dalam posisi terbalik, hanya bagian buket yang tampak di permukaan.

“Digali dulu sampai kelihatan, baru bisa diangkat,” jelas Warni.

Kini, tubuh Agus terbaring di RSUD Leuwiliang, menunggu proses pemulasaraan. TPA kembali sunyi, hanya menyisakan bau dan tumpukan sampah yang terus bertambah.

Bagi Warni, tempat itu bukan lagi sekadar sumber penghidupan, tetapi juga saksi bisu kepergian anak yang selama ini ia sayangi seperti darah daging sendiri.***

Editor : Syafira

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel