TIMETODAY.ID, JAKARTA — Virus chikungunya kembali menjadi sorotan setelah wabah besar melanda beberapa negara Asia. Penyakit yang disebabkan oleh virus yang dibawa nyamuk ini dikenal karena gejalanya yang melemahkan demam tinggi disertai nyeri sendi parah yang bisa bertahan berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun pada sebagian pasien.
Virus ini pertama kali diidentifikasi di Afrika pada awal 1950-an, namun kini tengah berkembang pesat di China dan Singapura.
China: Wabah Foshan dan Respons Ketat
Di China, angka kasus chikungunya menembus 8.000 orang. Wabah yang dimulai di kota Foshan, sekitar 260 km dari Zhanjiang, mendorong otoritas memberlakukan langkah-langkah mirip kebijakan nol-COVID.
Pasien dirawat di rumah sakit dengan tempat tidur berkelambu dan hanya bisa pulang setelah hasil tes negatif atau menjalani rawat inap minimal seminggu. Bahkan, drone dikerahkan untuk melacak lokasi perkembangbiakan nyamuk, termasuk “nyamuk gajah” yang memangsa larva pembawa virus.
Amerika Serikat melalui CDC mengeluarkan peringatan perjalanan level 2 bagi warganya yang hendak ke China, mengimbau “tindakan pencegahan ekstra.”
Namun, upaya pengendalian ini memicu kontroversi setelah video viral memperlihatkan petugas—termasuk polisi—memasuki kamar anak-anak di Zhanjiang pada malam hari untuk mengambil sampel darah tanpa izin orang tua. Insiden itu terjadi setelah apotek melaporkan anak laki-laki keluarga tersebut mengalami demam.
Singapura: Kasus Dua Kali Lipat
Sementara itu di Singapura, kasus chikungunya meningkat lebih dari dua kali lipat dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Hingga 2 Agustus 2025, tercatat 17 kasus, naik dari delapan pada 2024.
Lonjakan terbesar terjadi pertengahan tahun, dengan 13 kasus pada Juni dan 16 pada Juli. Meski angka ini jauh di bawah puncak wabah 2008 yang mencapai 718 kasus, tren peningkatan tetap menjadi perhatian otoritas kesehatan.
Singapura pernah mengalami lonjakan drastis pada 2013, ketika kasus melonjak menjadi 1.059 dibandingkan hanya 22 tahun sebelumnya.
Kini, kedua negara menghadapi tantangan besar: menekan penyebaran virus yang ditularkan nyamuk ini, sekaligus menjaga kepercayaan publik terhadap langkah-langkah kesehatan yang diambil.***
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































