TIMETODAY.ID, GAZA — Di sebuah rumah sakit di Gaza, pemandangan memilukan terpampang nyata: tubuh-tubuh tak bernyawa dibalut selimut tebal, bukan kain kafan. Suatu hari yang seharusnya tenang, justru menjadi saksi bisu dari luka kolektif sebuah bangsa yang terus berdarah.
Bukan karena mereka tak ingin memuliakan kematian. Tapi karena kain kafan telah menjadi barang langka di tengah blokade yang terus mencekik.
“Kami bahkan tidak bisa mengubur keluarga kami dengan layak,” kata seorang warga Palestina kepada Reuters. Kekurangan itu bukanlah karena abai, melainkan akibat pembatasan perbatasan Israel yang telah berlangsung berbulan-bulan. Sementara korban terus bertambah setiap hari.
Gaza kini tak hanya menghadapi bom dan peluru, tapi juga musuh tak kasatmata: kelaparan. Data dari Kementerian Kesehatan Gaza mencatat lima kematian akibat malnutrisi dalam 24 jam terakhir. Total korban kelaparan kini menyentuh angka 180 jiwa—dan ini belum termasuk mereka yang tak sempat terdata.
UNRWA, badan PBB yang selama ini membantu pengungsi Palestina, menyebut kelaparan sebagai “pembunuh baru di Gaza.”
“Lima bulan setelah distribusi makanan diambil alih oleh titik-titik militer Israel, kelaparan kini membunuh,” ujar Komisaris Jenderal UNRWA di akun X resminya, Senin (5/8/2025).
Sebelumnya, pusat distribusi komunitas yang didukung mitra UN telah membantu sekitar dua juta penduduk Gaza. Kini, banyak dari mereka bergantung pada dapur umum seadanya, atau bahkan menunggu dalam antrean berjam-jam tanpa kepastian.
“Sudah 10 hari saya tak makan roti,” kata seorang pengungsi lansia kepada UN News. “Saya tak punya uang, bahkan untuk membeli tepung. Saya hanya berharap pada bantuan dapur umum.”
Kisah serupa datang dari Mohammed Nayfeh, pemuda Gaza yang berdiri selama empat jam di tengah panas menyengat, menanti makanan bagi keluarganya.
“Kami sekarat. Kami butuh dukungan. Di mana dunia ini?” katanya, lirih.
Saat hidup tak lagi manusiawi, mati pun tak ada kepastian layak. Tak ada kafan. Tak ada ambulans. Tak ada kejelasan. Hanya selimut usang dan duka yang abadi.
Menurut laporan medis terbaru dari Gaza, lebih dari 61.020 orang tewas sejak serangan balasan Israel dimulai pada 7 Oktober 2023. 150.671 orang lainnya luka-luka. Angka-angka ini hanyalah perkiraan—karena banyak korban masih terjebak di bawah reruntuhan yang tak bisa dijangkau tim penyelamat.
644 orang terluka baru-baru ini telah dilarikan ke rumah sakit dalam waktu 24 jam saja.
Namun di balik statistik yang dingin itu, ada suara-suara manusia yang terus berseru meminta dunia mendengar. Seperti suara Bilal Thari, warga Gaza lainnya yang berbicara dengan putus asa:
“Kami tidak ingin perang. Kami ingin perdamaian. Kami ingin penderitaan ini berakhir.”
“Kami semua kelaparan, perempuan-perempuan di jalanan. Kami tak punya apa pun untuk hidup seperti manusia lainnya. Tak ada kehidupan.”
Di Gaza, harapan terus dipertahankan dengan sisa tenaga. Tapi sampai kapan?
Editor : Syafira
Sumber : Detik.com, Reuters.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































