TIMETODAY.ID, LEXINGTON — Di tengah sorot matahari musim panas Amerika, langkah ringan Janice Tjen memasuki lapangan keras di Lexington seperti biasa tenang, fokus, nyaris tanpa riuh selebrasi. Namun siapa sangka, dari sana, ia menuliskan babak baru bagi sejarah tenis Indonesia.
Pada Minggu pagi WIB, nama Janice kembali menghiasi headline olahraga setelah melaju ke final turnamen ITF W75 Lexington 2025. Di semifinal, ia mengalahkan wakil tuan rumah, Fiona Crawley, dalam dua set langsung, 6-3, 6-2, dalam waktu 1 jam 22 menit.
Ini bukan kemenangan biasa. Ini adalah kali pertama Janice mencapai partai puncak turnamen level W75, salah satu kasta penting dalam kalender ITF—dan ia melakukannya dengan meyakinkan.
Dari Underdog Menjadi Finalis
Datang sebagai unggulan ketujuh, petenis berusia 23 tahun kelahiran Jakarta ini membuktikan bahwa tekad dan konsistensi bisa menggeser prediksi. Sebelum Crawley, ia juga menaklukkan unggulan ketiga asal Prancis, Jessika Ponchet, dalam laga dramatis tiga set: 6-4, 2-6, 6-4.
Pertandingan itu tak hanya menguji teknik, tapi juga daya tahan mental—dan Janice menang di keduanya.
Laga Final: Tantangan Bernama Xiyu Wang
Di partai puncak, Janice akan bertemu petenis tangguh asal Tiongkok, Xiyu Wang, unggulan keempat yang mengalahkan Varvara Lepchenko (AS) di semifinal.
Wang dikenal punya groundstroke solid, tapi Janice sedang dalam performa puncak—sebuah pertemuan yang diprediksi akan berlangsung ketat.
Meski tersingkir di sektor ganda bersama Saki Imamura di perempat final, sorotan tetap tertuju pada kiprahnya di nomor tunggal.
“Setiap pertandingan adalah proses belajar. Final kali ini menjadi pengalaman penting menuju tantangan berikutnya,” ujar salah satu pelatih tim pendukung Janice.
Langkah Menuju US Open: Peringkat Top 200 WTA
Kemenangan ini bukan hanya soal gelar—tapi bagian dari proses lebih besar. Janice kini mengantongi peringkat Top 200 WTA, menjadikannya berhak tampil di kualifikasi US Open 2025.
Sebelum Lexington, Janice juga mencicipi lapangan di turnamen ITF W100 Evansville, meski langkahnya terhenti di perempat final tunggal dan babak kedua ganda. Namun bagi Janice, setiap turnamen adalah batu loncatan.
Dari Korea ke Amerika: Jejak Prestasi yang Konsisten
Jika menyisir kembali rekam jejaknya, prestasi Janice di tahun 2024–2025 tak bisa dianggap angin lalu. Pada Mei 2025, ia merebut dua gelar ITF W35 di Korea Selatan (Goyang dan Andong), plus satu gelar ganda. Memasuki Juni, ia mencetak empat gelar tunggal beruntun dan tiga gelar ganda—dua di antaranya bersama kompatriotnya, Priska Nugroho.
Dengan 25 kemenangan beruntun dan 42 set tanpa kalah, Janice bahkan diganjar predikat ITF Player of the Month dua kali berturut-turut.
Bukan Sekadar Prestasi: Tapi Simbol Harapan
Di balik torehan angka, kemenangan Janice adalah sinyal harapan. Sudah lama Indonesia menanti generasi baru yang mampu bersaing di level internasional. Dan kini, lewat raket di tangan Janice Tjen, mimpi itu tampak lebih dekat dari sebelumnya.
Ia masih muda, masih panjang jalannya. Tapi hari ini, ketika ia menatap lawan terakhir di final Lexington, ada satu hal yang sudah pasti—tenis putri Indonesia tak lagi hanya berbicara sejarah. Kini, kita bicara masa depan.***
Editor : Syafira
Sumber : pasjabar.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel





































