
TIMETODAY.ID, GAZA – Kota Gaza tengah menghadapi lonjakan harga pangan yang drastis di tengah minimnya bantuan kemanusiaan.
Kondisi ekonomi yang hancur akibat perang memaksa warga menarik uang tunai melalui perantara dengan potongan mencapai 40 persen.
Seorang pengungsi, Saber Ahmed, mengungkapkan bahwa biaya hidup semakin sulit ditanggung.
“Dengan menarik 1.000 shekel (sekitar US$ 300), saya hanya menerima 600 shekel, kurang dari US$ 200. Uang sebanyak itu bahkan tidak cukup untuk membeli 2 kilogram lentil dan 1 kilogram tepung. Setiap hari saya butuh sekitar US$ 300 untuk kebutuhan pokok. Ini masalah besar,” ujarnya, dikutip dari Al Jazeera, Minggu (3/8/2025).
Meski Israel telah mengumumkan “jeda kemanusiaan” pada pekan lalu, bantuan yang masuk ke Gaza masih jauh dari mencukupi. Kondisi pasar tetap memprihatinkan dengan minimnya stok dan harga bahan pokok yang terus meroket.
Mariam Hassan, warga lainnya, menyebut uang tunai yang dimilikinya nyaris tak bernilai di pasar.
“Dengan 100 shekel, saya tidak bisa membeli apa-apa. Semua pedagang kaki lima menolak uang ini karena kondisinya sudah rusak dan dilakban. Apa yang harus saya lakukan?” keluhnya.
Blokade dan terbatasnya distribusi bantuan menyebabkan ribuan keluarga Palestina terperosok dalam krisis pangan ekstrem. Harga bahan pokok seperti tepung dan lentil melonjak tajam, sementara ketersediaan uang tunai sangat terbatas dan nilainya terus merosot di pasar lokal.
Kondisi ini menyoroti bahwa jeda kemanusiaan tanpa akses logistik yang memadai belum mampu meredakan penderitaan warga Gaza yang telah berlangsung selama berbulan-bulan.







































