AS Tempatkan Dua Kapal Selam Nuklir, Tanggapan Trump atas Ancaman Medvedev

nuklir
Presiden Amerika Serikat Donald Trump.(Foto: REUTERS/Nathan Howard)

TIMETODAY.ID — Presiden Amerika Serikat Donald Trump memerintahkan pengerahan dua kapal selam nuklir ke “wilayah yang sesuai” pada Jumat (1/8/2025), sebagai respons terhadap pernyataan Dmitry Medvedev, mantan Presiden Rusia yang kini menjabat Wakil Ketua Dewan Keamanan Rusia.

Medvedev sebelumnya memperingatkan bahwa Moskow memiliki kemampuan serangan nuklir era Soviet yang bisa digunakan sebagai opsi terakhir.

Trump menyampaikan perintah tersebut dalam unggahan di platform media sosial Truth Social.

“Berdasarkan pernyataan yang sangat provokatif dari mantan Presiden Rusia Dmitry Medvedev… saya telah memerintahkan dua kapal selam nuklir untuk ditempatkan di wilayah yang sesuai, untuk berjaga-jaga jika pernyataan bodoh dan provokatif itu bukan hanya sekadar omongan,” tulis Trump mengutip dari Reuters.

“Kata-kata sangat penting, dan sering kali dapat membawa konsekuensi yang tidak diinginkan. Saya harap kali ini bukan salah satunya.”

Saat ditanya wartawan soal alasan di balik keputusan tersebut, Trump menjawab tegas: “Sebuah ancaman dilontarkan oleh mantan Presiden Rusia, dan kami akan melindungi rakyat kami.”

Namun, pernyataan Trump ini dipandang oleh para analis keamanan sebagai eskalasi retorika, bukan tindakan militer langsung. Para pakar mencatat bahwa kapal selam nuklir AS secara rutin sudah berada dalam status siaga dan tidak perlu “dipindahkan” secara demonstratif.

Selain itu, Pentagon dan Angkatan Laut AS menolak berkomentar, mengikuti kebijakan kerahasiaan posisi kapal selam nuklir yang berfungsi sebagai bagian dari sistem pencegahan strategis AS.

“Kapal-kapal selam itu selalu siaga dan tidak perlu dipindahkan ke posisi baru,” ujar Hans Kristensen dari Federation of American Scientists. “Trump justru memberi panggung kepada Medvedev untuk merespons pernyataan konyolnya itu.”

AS diketahui memiliki 14 kapal selam kelas Ohio, masing-masing dapat membawa hingga 24 rudal balistik Trident II D5 dengan jangkauan sekitar 4.600 mil dan muatan beberapa hulu ledak termonuklir. Sekitar 8–10 kapal selam ini biasanya dikerahkan pada waktu tertentu.

Namun retorika Trump memicu kekhawatiran di kalangan pengamat pengendalian senjata.

“Ini tidak bertanggung jawab dan tidak disarankan,” kata Daryl Kimball, Direktur Eksekutif Arms Control Association. “Tak seorang pun pemimpin seharusnya mengancam penggunaan senjata nuklir, apalagi dengan gaya kekanak-kanakan di media sosial.”

Medvedev, yang dikenal vokal dalam retorika anti-Barat sejak pecahnya invasi Rusia ke Ukraina pada 2022, merespons dengan menyindir Trump dan menegaskan bahwa Rusia akan tetap pada jalur kebijakannya.

Sumber diplomatik AS menyebut bahwa pernyataan Medvedev tidak dianggap sebagai ancaman serius oleh pemerintahan Washington.

Namun, langkah Trump memunculkan pertanyaan baru soal arah kebijakan luar negerinya, terutama di tengah ultimatum yang ia tetapkan bagi Rusia: menyetujui gencatan senjata di Ukraina dalam 10 hari atau menghadapi tarif perdagangan baru.

Analis keamanan Evelyn Farkas dari McCain Institute menilai keputusan Trump lebih sebagai sinyal politik daripada langkah menuju konfrontasi militer.

“Ini hanyalah sinyal. Bukan awal dari konflik nuklir, dan saya rasa Rusia juga tidak menganggapnya demikian,” ujarnya.

Meski demikian, ia menambahkan bahwa aksi simbolis ini tidak mungkin mengubah sikap Moskow terhadap konflik Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin belum menunjukkan sinyal akan mematuhi tenggat waktu Trump.

Dalam pernyataannya pada hari yang sama, Putin menyebut Rusia tetap membuka peluang untuk perundingan damai, namun menegaskan bahwa medan perang saat ini berpihak pada Rusia.

Ketegangan pribadi antara Trump dan Medvedev sendiri telah berlangsung dalam beberapa hari terakhir, dimulai dari saling sindir hingga ancaman terbuka soal tarif dan kemampuan militer.

Kini, konfrontasi yang dimulai dari kata-kata, mulai menyentuh wilayah simbol-simbol kekuatan nuklir—menghidupkan kembali kekhawatiran lama soal bahaya perang retorika antar kekuatan besar.***

Editor : Syafira

Sumber : Reuters.com

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

 

Baca Juga :  Ketegangan Memanas, Iran Sindir Ancaman Trump soal ‘Zaman Batu’

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel