TIMETODAY.ID — Di tengah lanskap pedesaan Spanyol yang tenang, kota kecil Brihuega kini menghadapi tantangan yang tak pernah dibayangkan sebelumnya: terlalu banyak cinta dari para turis.
Dikenal luas sebagai destinasi Instagrammable berkat ladang lavendernya yang memesona, kota berpenduduk kurang dari 3.000 jiwa ini kini menjadi lautan manusia setiap akhir pekan.
Selama Juli 2025, satu-satunya bulan ketika bunga lavender mekar penuh, lebih dari 100.000 wisatawan membanjiri kota.
Perekonomian lokal pun tersenyum, dengan perputaran uang mencapai 8 juta euro atau sekitar Rp137 miliar. Namun di balik foto-foto indah di media sosial, ada ketegangan yang mengintai.
“Ambil contoh Sabtu lalu: desa itu lumpuh,” ujar Luis Viejo, Wali Kota Brihuega, dalam wawancara dengan harian nasional Spanyol ABC. “Itu adalah masa sulit bagi saya.”
Ketenaran yang Membebani
Ladang lavender seluas 1.000 hektar di Brihuega telah menjadi daya tarik utama dalam satu dekade terakhir.
Keindahannya bukan hanya berhasil menarik perhatian wisatawan, tapi juga membantu mengatasi masalah depopulasi desa. Penduduk meningkat hingga 24 persen, dan sektor wisata berkembang pesat.
Namun, keberhasilan itu datang dengan harga. Jalan-jalan sempit yang dulunya tenang kini dipadati kendaraan.
Parkir menjadi kekacauan, sementara infrastruktur kota kewalahan mengakomodasi lonjakan wisatawan yang hanya terjadi dalam hitungan minggu.
Seruan dari Wali Kota: Tolong, Datanglah di Hari Kerja
Dalam upaya meredam kepadatan, Luis Viejo mengimbau pengunjung untuk datang antara Senin hingga Kamis. Akhir pekan, katanya, menjadi mimpi buruk logistik bagi penduduk dan pemerintah kota.
“Kami memiliki berbagai penawaran wisata, budaya, dan artistik berkat lavender,” ujarnya. “Tapi tolong, datanglah di hari kerja. Akhir pekan terlalu padat.”
Meski akses ke ladang lavender tetap gratis dan desa tidak memiliki kewenangan untuk membatasi jumlah pengunjung atau memungut biaya, pihak berwenang berjanji akan mengambil langkah preventif.
Salah satunya adalah pembangunan parkir ‘park-and-ride’ permanen yang akan dihubungkan dengan bus antar-jemput mulai tahun depan.
Dari Lavender ke Sumac: Mencari Pesona Sepanjang Tahun
Langkah berikutnya, menurut Viejo, adalah mendistribusikan kunjungan wisata sepanjang tahun, bukan hanya di musim panas.
Ia mengusulkan promosi ladang sumac di bulan Oktober dan November sebagai alternatif. Di musim gugur, lereng bukit berubah menjadi merah tua, menawarkan lanskap yang tak kalah menakjubkan.
Dengan pengelolaan yang hati-hati dan strategi promosi yang berkelanjutan, Brihuega berharap tetap menjadi magnet wisata—tanpa mengorbankan ketenangan warganya sendiri.
Sumber :cnnindonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































