TIMETODAY.ID — Sosok monster kecil berbulu bernama Labubu belakangan jadi ikon global yang menghipnotis Gen Z dan milenial di seluruh dunia. Antrean panjang di depan toko, berburu kotak misteri, hingga harga lelang miliaran rupiah—semuanya adalah bagian dari fenomena Pop Mart, perusahaan mainan asal Tiongkok yang kini bernilai fantastis.
Dilaporkan Fortune, Pop Mart International Group baru saja mencatat kapitalisasi pasar mencapai US$ 46,1 miliar, atau sekitar Rp 75 triliun. Angka ini bukan hanya menobatkan Pop Mart sebagai raksasa di industri mainan koleksi, tetapi juga mengangkat pendirinya, Wang Ning, ke posisi orang terkaya ke-10 di Tiongkok dengan kekayaan bersih US$ 22,7 miliar (sekitar Rp 369 triliun).
Bukan Mainan Biasa: Sensasi Blind Box dan Nostalgia
Salah satu kunci kesuksesan Pop Mart adalah konsep blind box, kotak misteri berisi figur Labubu atau karakter lain seperti Molly dan Crybaby. Pembeli tidak tahu persis boneka apa yang akan mereka dapatkan sampai kotak dibuka. Unsur kejutan inilah yang membuat para kolektor merasa seperti kembali ke masa kecil—sekaligus terpicu untuk terus membeli demi melengkapi koleksi.
Sebagian besar pemburu Labubu adalah Gen Z dan milenial yang rela begadang demi antre lebih cepat. Beberapa pembeli bahkan sudah berdiri di depan toko sejak pukul 2 pagi, berharap bisa mengamankan stok Labubu yang makin langka. Tidak heran, boneka monster satu ini juga laris manis di pasar lelang, dengan edisi super langka pernah terjual hingga Rp 2,5 miliar.
Toko Mainan Kecil yang Mendunia
Siapa sangka perjalanan Pop Mart dimulai dari sebuah toko mainan mungil di Beijing pada tahun 2010. Wang Ning, sang pendiri yang kini berusia 38 tahun, melihat celah di pasar mainan premium yang menawarkan koleksi karakter desainer dengan konsep kejutan.
Kini, Pop Mart memiliki lebih dari 530 toko di berbagai negara, satu taman hiburan di Beijing, dan basis member yang mencapai 46 juta orang di Tiongkok saja. Pendapatan mereka tahun lalu menembus US$ 1,8 miliar (Rp 29 triliun), di mana sekitar 40 persen di antaranya berasal dari pasar luar negeri.
Antara Koleksi dan Investasi
Bagi sebagian orang, Labubu bukan sekadar boneka lucu. Ia adalah simbol status, bahkan investasi. Beberapa koleksi Labubu yang sudah habis produksi kini dijual berkali-kali lipat dari harga ritel. Para reseller dan kolektor berburu varian langka, meracik strategi barter, dan saling berbagi “kode” untuk berburu kotak misteri di toko.
Fenomena ini mengingatkan banyak orang pada era boneka Beanie Babies di tahun 1990-an, tetapi Pop Mart tampil dengan strategi modern: mengawinkan emosi nostalgia, eksklusivitas, dan kemudahan belanja era digital.
Tren yang Belum Redup
Dengan jaringan internasional yang terus meluas dan kolaborasi karakter baru, Pop Mart tampaknya masih akan berjaya dalam beberapa tahun ke depan. Bagi Wang Ning, Labubu hanyalah permulaan.
Dari satu toko di Beijing, sang boneka monster kini merambah rak kolektor di seluruh dunia—dan bagi jutaan penggemarnya, sensasi membuka blind box Labubu tetap jadi cara sederhana menghidupkan kembali rasa penasaran masa kecil.***
sumber: cnbcindonesia.com
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































