TIMETODAY.ID — Di balik rak supermarket, kaleng sayur, buah, hingga saus tomat berlabel Del Monte sudah jadi pemandangan akrab bagi banyak keluarga Amerika selama lebih dari satu abad. Namun, di usia hampir 140 tahun, perusahaan legendaris ini kini berada di titik paling sulit dalam sejarahnya: bangkrut.
Del Monte Foods, yang berbasis di California, resmi mengajukan kebangkrutan pada Selasa waktu setempat. Perusahaan raksasa pangan ini mengaku terjebak utang beragunan lebih dari USD1,2 miliar, kesalahan manajemen stok di masa pandemi, hingga tekanan ekonomi global yang sulit diprediksi.
Dalam keterangannya, Del Monte menyebut sudah menandatangani perjanjian restrukturisasi dengan para krediturnya. Salah satu syaratnya: sebagian besar aset perusahaan harus dijual untuk membayar utang. Untuk tetap beroperasi selama proses kebangkrutan, Del Monte sudah mengamankan dana USD165 juta.
“Setelah evaluasi menyeluruh terhadap semua opsi yang tersedia, kami memutuskan proses penjualan yang diawasi pengadilan adalah cara paling efektif untuk mempercepat pemulihan kami dan menciptakan Del Monte Foods yang lebih kuat dan bertahan lama,” kata CEO Del Monte, Greg Longstreet, seperti dilansir The New York Times.
Stok Menumpuk, Utang Menggunung
Ironisnya, masalah ini bermula ketika pandemi Covid-19 justru menaikkan permintaan pangan kalengan ke rekor tertinggi. Kebiasaan makan di rumah membuat permintaan melonjak — tapi ketika situasi perlahan normal, stok berlebih yang diproduksi Del Monte justru menumpuk di gudang. Banyak produk terpaksa dijual dengan harga merugi atau bahkan dihapuskan.
Tekanan tidak berhenti di sana. Sejak diakuisisi Del Monte Pacific Limited pada 2014, perusahaan menanggung utang besar untuk membiayai pembelian tersebut. Bunga utang semakin membengkak seiring suku bunga global yang naik dalam beberapa tahun terakhir. Sejak 2020, biaya bunga tunai Del Monte melonjak hampir dua kali lipat.
Kalah Saing dengan Merek Toko
Di sisi lain, perilaku belanja konsumen juga berubah. Menurut analis S&P Global, semakin banyak pembeli memilih merek toko atau merek dagang privat yang harganya lebih murah ketimbang brand nasional seperti Del Monte.
“Sekitar 40 hingga 45 persen dari total pasar dilayani oleh pelaku usaha swasta, yang biasanya memiliki harga lebih rendah dibandingkan dengan produk bermerek,” jelas analis S&P Global, Arpi Gupta.
Inflasi harga pangan juga tak bisa dihindari. Arpi Gupta mencatat, rata-rata harga retail produk Del Monte kini 25–30 persen lebih tinggi dibandingkan tiga tahun lalu. Sementara itu, tarif baja dan aluminium impor yang digunakan untuk membuat kaleng juga ikut mengerek biaya produksi.
Warisan Panjang di Tengah Ketidakpastian
Didirikan pada 1886, Del Monte selama ini terkenal dengan bahan baku segar dari lahan pertanian keluarga di Amerika Serikat dan Meksiko. Produk ikoniknya — mulai dari kaldu College Inn, saus tomat Contadina, hingga minuman bubble tea Joyba — menjadi bagian dari banyak dapur di Amerika Utara.
Meski di tengah pusaran krisis, Greg Longstreet menegaskan semangat perusahaan untuk tetap menyediakan pangan bergizi bagi banyak orang.
“Kami tetap berkomitmen pada misi kami untuk memperluas akses ke makanan bergizi dan lezat untuk semua orang,” ujarnya.
Kini, publik menanti: akankah nama besar Del Monte benar-benar terselamatkan di meja pengadilan, atau justru tinggal kenangan manis di rak supermarket?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































