Merawat Surga Bawah Laut Labuan Bajo dengan Spiderweb Karang

Labuan Bajo
Keragaman bawah laut di Pulau Kanawa. (medialabuanbajo.com)

TIMETODAY.ID, LABUAN BAJO  – Senja di Pantai Waecicu, Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, tak pernah gagal memesona. Kala itu, mentari belum sepenuhnya tenggelam, namun suhu udara tetap mengusik kulit.

Meski begitu, laut yang tenang memantulkan lukisan langit bak kanvas raksasa. Pulau-pulau kecil di kejauhan menambah eksotisme sore itu, lukisan alam yang menghadirkan kesejukan batin.

Di balik panorama memesona itu, ada kesibukan yang tak kalah hangat. Di balkon Plataran Komodo, Charis Baitanu, Ketua Perkumpulan Bakti Tunas Negeri (BTN) Labuan Bajo, bersama para pegiat komunitasnya tengah mempersiapkan sesuatu. Di hadapan mereka, berjajar rapi media tanam berbentuk jaring laba-laba dari besi, yang mereka sebut spiderweb, wadah harapan bagi terumbu karang yang perlahan menghilang.

“Ini semua kami siapkan agar biota laut Labuan Bajo tetap punya rumah,” ujar Charis dikutip dari hypeabis.id, sambil memeriksa satu per satu rangka besi tersebut.

Kegiatan hari itu adalah bagian dari kolaborasi BTN dengan PT ASDP Indonesia Ferry (Persero), yang mendonasikan 30 unit media tanam spiderweb dalam program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL).

Dalam seremoni kecil yang digelar di tepi pantai, Charis memandu partisipan mengikat fragmen karang jenis Acropora pada jaring besi tersebut. Proses yang membutuhkan ketelatenan.

“Yang kami lakukan mungkin terlihat kecil. Tapi setiap bibit karang yang kami tanam adalah investasi besar untuk masa depan laut Labuan Bajo,” kata Charis.

BTN, komunitas yang digawangi anak-anak muda pesisir ini, telah lama aktif dalam konservasi lingkungan. Mereka rutin membersihkan sampah pesisir, menanam mangrove, hingga merancang strategi rehabilitasi terumbu karang. Salah satu ujung tombaknya adalah metode spiderweb.

Andi Kevin, anggota BTN yang juga teknisi lapangan, menjelaskan kelebihan sistem tersebut.

“Spiderweb terbuat dari besi, lalu dilapisi pasir, resin, dan katalis sebagai perekat. Bibit karang diikat di bagian jaring. Kami pernah mencoba metode rock pile, tapi hasilnya tidak seefisien ini,” ungkapnya.

Menurut Kevin, metode spiderweb lebih ramah logistik dan adaptif terhadap arus bawah laut Labuan Bajo.

“Saat arus naik membawa plankton dari dasar laut, pertumbuhan karang jadi lebih cepat,” tambahnya.

Hingga kini, lebih dari 300 unit spiderweb telah ditebar oleh BTN di titik-titik strategis dasar laut.

Kegiatan rehabilitasi ini menjadi semakin mendesak di tengah krisis pemutihan karang global. Data dari International Coral Reef Initiative (ICRI) dan NOAA’s Coral Reef Watch mencatat bahwa sejak awal 2023 hingga Maret 2025, sebanyak 84 persen terumbu karang di 82 negara mengalami pemutihan akibat pemanasan laut ekstrem. Indonesia pun termasuk wilayah terdampak.

“Penanaman terumbu karang ini sama pentingnya seperti menanam mangrove. Keduanya adalah penjaga hidup ekosistem laut,” ujar Kevin.

Menyadari pentingnya inisiatif ini, ASDP Indonesia Ferry pun mengambil peran.

“Apa yang kami lihat di sini adalah serpihan surga dari mahakarya Tuhan. Dan tugas kita adalah menjaganya,” ucap Direktur Utama ASDP, Heru Widodo.

Heru menekankan bahwa sebagai BUMN yang beroperasi di perairan, ASDP bertanggung jawab bukan hanya terhadap layanan publik, tetapi juga terhadap keberlanjutan ekosistem laut.

“Apa yang kita lakukan hari ini mungkin kecil, tapi jika dilakukan bersama dan terus menerus, dampaknya bisa luar biasa,” ujarnya.

Tak hanya menanam, ASDP juga mendukung perawatan terumbu karang agar dapat tumbuh optimal. Corporate Secretary ASDP, Shelvy Arifin, menambahkan bahwa program ini sudah dijalankan sejak 2022.

“Sudah ada 80 unit yang kami tanam di Waecicu. Program ini bagian dari komitmen ASDP pada pilar lingkungan, pendidikan, dan wirausaha,” jelasnya.

ASDP sebelumnya juga menanam 5.000 pohon mangrove di Tangerang dan Lombok Timur, dengan kontribusi terhadap penyerapan emisi sebesar lebih dari 1.100 ton karbon dioksida ekuivalen.

Bagi Charis dan komunitasnya, dukungan semacam ini adalah bahan bakar semangat. “Semakin banyak yang peduli, semakin kuat pula harapan kami menjaga laut Labuan Bajo,” ucapnya.

Sebab bagi mereka, menjaga laut bukan hanya soal konservasi, tapi juga menjaga identitas, mata pencaharian, dan masa depan generasi pesisir.

Editor : B. Supriyadi

Baca Juga :  Gado-Gado Tajur, Kuliner Legendaris Sudah Ada Sejak 1986 dengan Cita Rasa Autentik

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel