TIMETODAY.ID, BOGOR – Kawasan Puncak, Bogor, kembali menjadi sorotan saat long weekend atau libur panjang. Bukan hanya karena padatnya wisatawan, tapi juga karena kebijakan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi.
Demi mengurai kemacetan yang nyaris menjadi ‘ritual’ saat libur panjang, Dedi memutuskan untuk meliburkan operasional seluruh angkutan kota (angkot) yang melintasi kawasan Puncak selama akhir pekan (weekend).
Langkah ini bukan yang pertama. Pemerintah Provinsi Jawa Barat telah menjadikan strategi ini sebagai pola berulang untuk meredam lonjakan kendaraan pribadi maupun umum pada hari-hari besar dan akhir pekan panjang.
Strategi Antisipatif dan Kompensasi Bagi Sopir
Kepala Bidang Lalu Lintas Dinas Perhubungan Kabupaten Bogor, Dadang Kosasih, menyebut keputusan ini merupakan kebijakan yang disiapkan jauh hari sebelumnya sebagai bentuk antisipasi kemacetan ekstrem yang kerap terjadi.
“Jadi ini berkesinambungan. Setiap ada libur panjang, Gubernur akan melakukan subsidi untuk mengurai kemacetan. Intinya memang kesana,” ujar Dadang, Jumat (30/5/2025).
Menurut Dadang, kebijakan ini tidak hanya berdampak pada lalu lintas, tapi juga langsung menyentuh kesejahteraan para sopir dan pemilik angkot. Pemerintah memberikan kompensasi sebesar Rp200.000 per hari bagi setiap sopir yang diliburkan, termasuk sopir utama, cadangan, dan pemilik kendaraan.
“Yang diakomodir bukan hanya sopir utama, tapi juga sopir cadangan serta pemilik kendaraan. Jadi semua terdata dan dapat kompensasi,” katanya.
703 Angkot Nonaktif, Tiga Trayek Dihentikan Sementara
Selama dua hari libur panjang, total sebanyak 703 unit angkot dari tiga trayek utama akan berhenti beroperasi. Ketiga trayek tersebut adalah:
-
Bogor – Cisarua
-
Bogor – Cibedug
-
Ciawi – Pasir Muncang
“Setiap sopir mendapatkan Rp200 ribu per hari, berarti selama dua hari mereka menerima Rp400 ribu,” jelas Dadang.
Puncak Butuh Solusi Sistemik
Kawasan Puncak selama ini dikenal sebagai destinasi utama warga Jabodetabek saat akhir pekan atau libur nasional. Namun, popularitas itu juga membawa beban berat, kemacetan parah yang bisa berlangsung berjam-jam, bahkan hingga dini hari.
Dengan meliburkan angkot, Pemprov Jawa Barat berharap dapat mengurangi kepadatan di ruas utama, terutama karena banyak kendaraan besar seperti angkot kerap menjadi titik perlambatan arus lalu lintas di jalan sempit kawasan pegunungan itu.
Dadang menambahkan bahwa strategi ini kemungkinan besar juga akan diterapkan pada momentum libur Iduladha mendatang, mengingat pola mobilitas masyarakat yang cenderung berulang.
“Kemungkinan ada, jadi ini berkesinambungan,” tegasnya.
Editor : B. Supriyadi
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































