TIMETODAY.ID — Sabtu (24/5) bukan hari yang tenang bagi pengguna X—platform media sosial milik Elon Musk. Di berbagai penjuru dunia, ribuan orang mendapati platform yang biasa mereka gunakan untuk berbagi pemikiran, promosi bisnis, atau sekadar berceloteh, tiba-tiba lumpuh total. Tak kurang dari 25.800 laporan gangguan masuk ke situs pemantau layanan digital, Downdetector.
Bukan hanya di Amerika Serikat, keluhan serupa juga datang dari pengguna di Eropa, Asia, dan Australia. X tumbang, dan dunia digital sejenak terdiam.
Namun, justru di tengah kelumpuhan itu, Elon Musk muncul dengan pengumuman yang tak kalah mengejutkan. Dalam sebuah unggahan di X—yang ironisnya baru pulih sebagian saat itu—ia menulis:
“Kembali bekerja 24/7 dan tidur di ruang konferensi/server/pabrik. Saya akan sangat fokus pada X, xAI dan Tesla. Ditambah akan ada peluncuran Starship minggu depan.”
Musk seperti kembali ke akar—ke masa-masa awal saat ia mendirikan Tesla dan SpaceX, tidur di pabrik dan memantau setiap detail operasional. Kini, setelah menjalani masa kontroversial sebagai Kepala Lembaga Efisiensi Pemerintah (DOGE), ia tampaknya mencoba mengembalikan kendali penuh atas kerajaan bisnis yang sempat tercecer di tengah hiruk-pikuk politik.
X, Tesla, dan Dinasti yang Goyah
Banyak yang bertanya-tanya: apa yang sebenarnya terjadi dengan X? Mengapa platform itu bisa lumpuh total tanpa peringatan?
Pihak X belum memberikan komentar resmi. Tapi ini bukan pertama kalinya platform tersebut terguncang. Sejak diakuisisi Musk, X mengalami transformasi yang agresif—termasuk pemangkasan staf besar-besaran, perubahan algoritma, dan kebijakan moderasi konten yang tak jarang menuai kontroversi. Akibatnya, banyak pengguna yang beralih ke platform lain seperti Mastodon, Bluesky, hingga Threads.
Tak hanya X, Tesla pun tengah digempur dari berbagai arah. Boikot besar-besaran terhadap brand ini merebak di AS dan Eropa, dipicu oleh pernyataan politik Musk yang semakin keras. Gerakan protes bahkan menyasar langsung ke showroom dan pabrik Tesla. Dan tahun lalu, untuk pertama kalinya, Tesla melaporkan penurunan pengiriman tahunan.
Sementara itu, investor mulai gelisah. Banyak yang menilai kehadiran Musk terlalu sering di arena politik dan terlalu jarang di ruang direksi Tesla.
Antara Politik dan Pabrik
Pada masa awal pelantikan Presiden Donald Trump pasca Pilpres AS, Musk menjabat posisi baru sebagai Kepala DOGE—sebuah lembaga yang ia bentuk dengan ambisi “mengefisienkan” pemerintahan. Hasilnya? Ribuan PNS dipecat, kontrak sosial dibatalkan, dan program-program bantuan dikorbankan atas nama efisiensi.
Di sisi lain, Musk dilaporkan telah menyuntikkan hampir US$300 juta ke dalam kampanye politik, mendukung Trump dan kandidat Partai Republik lainnya. Tapi kini, ia menyatakan akan mengurangi pengeluaran politiknya “secara substansial” dan kembali fokus ke bisnis.
Bulan lalu, ia bahkan berjanji kepada investor akan memangkas keterlibatannya di DOGE menjadi hanya satu hingga dua hari per pekan. Sisanya, akan ia dedikasikan kembali untuk Tesla, SpaceX, dan tentu saja, X.
Kembali ke Musk yang Dulu?
Apakah ini sinyal bahwa Musk mencoba merebut kembali kepercayaan publik dan investornya? Atau sekadar manuver taktis di tengah tekanan yang terus membesar?
Yang pasti, sosok Musk kini kembali terlihat di lantai pabrik, ruang server, dan kantor pusat perusahaannya. Ia kembali tidur di tempat kerja, seperti yang pernah ia lakukan dua dekade lalu saat memimpin Tesla dari nol.
Namun pertanyaan lebih besar menggelayut: masihkah Musk yang sekarang mampu menyelamatkan ekosistem bisnis yang dibangunnya sendiri dari badai yang sebagian ia ciptakan?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































