TIMETODAY.ID — Dengan nilai perdagangan yang terus meningkat, Indonesia semakin mencatatkan keberhasilan dalam ekspor ke Australia. Total perdagangan antara kedua negara pada 2024 tercatat mencapai USD 13,474 miliar, dengan ekspor Indonesia ke Australia menyumbang sekitar USD 5,59 miliar. Hal ini menciptakan peluang besar, tidak hanya bagi perusahaan besar tetapi juga pelaku usaha kecil menengah (UKM) Indonesia.
Salah satu sektor yang mengalami lonjakan ekspor adalah makanan dan minuman, dengan total ekspor pada 2024 mencapai USD 160,5 juta. Melihat tingginya permintaan akan makanan sehat, produk berbasis tanaman, dan makanan rendah gula, para eksportir Indonesia perlu memanfaatkan tren ini untuk lebih menembus pasar Australia.
Agung Haris Setiawan, Atase Perdagangan Canberra, mengatakan,”Eksportir makanan dan minuman Indonesia sebaiknya mengikuti tren makanan sehat seperti makanan rendah gula dan berbasis tanaman, serta memastikan produk mereka memenuhi standar Food Standards Australia New Zealand (FSANZ). Produk yang dipasarkan juga sebaiknya memiliki cerita yang kuat dan menunjukkan keberlanjutan.”
Selain makanan dan minuman, bumbu masak Indonesia juga dilihat sebagai produk dengan potensi besar di pasar Australia. Fikrie Aldjoeffry, dari Export Expert Indonesia, menyebutkan bahwa konsumen Australia sangat menyukai bumbu berbahan alami dan tanpa tambahan sintetis.
“Tren kuliner global yang mendorong permintaan bumbu otentik memberikan peluang besar bagi Indonesia,” ujarnya. Komunitas diaspora Indonesia di Australia menjadi katalisator yang efektif dalam mempromosikan produk ini.
Sektor home decor berbasis rotan dan bambu juga semakin dilirik. Produk dekorasi rumah Indonesia, yang dikenal dengan desain unik dan berbahan alami, mengalami peningkatan ekspor yang signifikan. Haris Setiawan menambahkan,
“Untuk menarik minat buyer di Australia, desain home decor sebaiknya minimalis dengan fokus pada keberlanjutan dan menggunakan bahan berkualitas.”
Maria Sidabutar, Kepala Divisi SMEs Advisory LPEI, menyatakan bahwa lembaganya aktif membantu pelaku usaha Indonesia dalam membuka peluang ekspor, terutama ke pasar non-tradisional seperti Australia dan Selandia Baru.
LPEI menyediakan berbagai program, termasuk Business Matching dan Coaching Program for New Exporters (CPNE), untuk mendukung UKM Indonesia dalam merambah pasar global.
Tak hanya itu, program seperti KSATRIA yang diluncurkan oleh Atase Perdagangan Canberra dengan teknologi AI Chatbot juga bertujuan mempermudah pelaku usaha Indonesia dalam mengakses informasi dan fasilitas ekspor secara lebih efisien.
Dengan berbagai peluang ini, Indonesia tampaknya berada pada jalur yang tepat untuk memperluas jangkauan ekspor ke Australia. Dengan pendekatan yang berkelanjutan dan kolaboratif, sektor-sektor utama seperti makanan, minuman, dan home decor berpotensi membawa Indonesia semakin dekat pada pasar global yang lebih luas.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































