TIMETODAY.ID — Dulu, kanker usus besar atau kolorektal lebih dikenal sebagai penyakit yang menyerang usia senja. Namun kini, gambaran itu mulai bergeser. Mereka yang berusia 20 hingga 30-an pun tak lagi aman dari ancamannya.
Sebuah studi yang dimuat oleh Times of India menunjukkan lonjakan mengejutkan: antara tahun 2010 hingga 2019, kasus kanker usus besar pada usia di bawah 50 tahun meningkat hingga 80 persen. Lonjakan ini melahirkan istilah baru: Early Onset Colorectal Cancer (EOCC)—yakni kanker usus besar yang berkembang di usia muda.
Lalu, apa yang membuat penyakit ini menyerang begitu dini?
Gaya Hidup Modern yang Diam-diam Mengikis
Seiring perubahan gaya hidup, terutama di kalangan anak muda urban, pola makan sehari-hari tak lagi sekadar soal kenyang, tapi juga soal kepraktisan dan kenikmatan instan. Sayangnya, itulah awal mula masalah.
Menurut WebMD, ada empat jenis makanan dan minuman yang diam-diam menjadi pemicu kanker usus besar:
1. Daging Merah
Siapa yang bisa menolak godaan burger juicy atau steak panggang? Namun di balik kenikmatan itu, daging merah seperti sapi dan domba yang dimasak pada suhu tinggi diyakini memicu pembentukan senyawa karsinogenik. Jika dikonsumsi terlalu sering, risikonya bukan sekadar kolesterol—tapi bisa menjadi pintu gerbang menuju kanker kolorektal.
2. Daging Olahan
Sosis, ham, bacon, atau nugget—semuanya jadi andalan makanan cepat saji dan sarapan kilat. Tapi di balik kepraktisannya, proses pengawetan dengan garam, asap, atau bahan kimia justru memperbesar risiko. Penelitian mengaitkan konsumsi daging olahan secara rutin dengan peningkatan signifikan risiko kanker usus besar.
3. Alkohol
Tak sedikit yang menjadikan alkohol sebagai pelarian atau bagian dari pergaulan. Tapi tahukah kamu? Minum alkohol 2–3 gelas sehari bisa meningkatkan risiko kanker kolorektal hingga 20 persen. Jika lebih dari tiga gelas, lonjakan risikonya bisa mencapai 40 persen. Bukan angka kecil untuk sesuatu yang kerap dianggap sepele.
4. Minuman Manis dan Biji Olahan
Gula dalam kemasan botol atau kaleng, serta biji-bijian yang sudah diproses, memang jadi bagian umum dari pola makan harian. Namun menurut riset yang dipublikasikan JAMA Oncology pada 2018, makanan-makanan ini memicu inflamasi dalam tubuh. Dalam studi terhadap lebih dari 121.000 orang selama 26 tahun, mereka yang mengonsumsi makanan pemicu inflamasi memiliki risiko 44 persen lebih tinggi terkena kanker usus besar.
Saatnya Refleksi: Apa yang Kita Konsumsi, Menentukan Arah Kesehatan Kita
Fenomena EOCC bukan hanya alarm bagi individu, tapi juga bagi masyarakat dan sistem kesehatan secara keseluruhan. Di tengah gempuran gaya hidup cepat dan instan, pilihan makanan ternyata bisa menjadi bom waktu.
Pola makan kaya sayuran hijau, biji-bijian utuh, dan gaya hidup aktif menjadi perisai terbaik untuk melindungi diri. Kanker usus besar mungkin tak langsung terasa, tapi perlahan berkembang—menyusup di balik kebiasaan kecil yang tak kita sadari.
Kini, pertanyaannya adalah: apakah kita sudah cukup peduli dengan apa yang kita makan hari ini, untuk mencegah penyakit esok hari?
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel





































