Gerai Tutup, Diskon Besar, dan Perubahan Zaman: Nasib Tiga Ritel Raksasa di Indonesia

supermarket
Ilustrasi supermarket (istockphoto)

TIMETODAY.ID — Deretan rak yang dulunya penuh barang kini kosong. Lampu padam, pintu digembok, dan spanduk diskon besar-besaran tak lagi menarik langkah kaki. Begitulah pemandangan di beberapa supermarket yang dulunya menjadi bagian dari rutinitas belanja banyak warga Indonesia.

Dalam beberapa tahun terakhir, sejumlah jaringan supermarket harus angkat kaki dari Indonesia. Alasan di baliknya beragam, mulai dari tekanan kompetisi pasar, perubahan pola belanja konsumen, hingga lemahnya strategi ekspansi.

tiga ritel besar yang memilih undur diri dari peta persaingan ritel Indonesia, masing-masing dengan kisahnya sendiri.

Advertisement

1. GS Supermarket: Ketika Pasar Korea Menyusut di Tanah Air

GS Supermarket, jaringan ritel asal Korea Selatan, menjadi nama terbaru dalam daftar yang resmi menutup operasionalnya. Per akhir Mei 2025, sebanyak 10 gerai GS di Indonesia akan berhenti beroperasi.

“Iya memang sudah, itu anggota kami dan sudah ada info juga, iya. (Penutupan) 31 Mei kalau enggak salah ya prosesnya. Perusahaannya (di RI) tutup, GS Supermarket tutup,” kata Ketua Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan (Hippindo), Budihardjo Iduansjah.

Menurut Budihardjo, cakupan pasar swalayan ini memang tergolong kecil dan tidak menunjukkan perkembangan berarti dalam industri ritel nasional. Meski demikian, kabar baiknya, lokasi-lokasi gerai GS disebut akan diambil alih oleh pemain ritel lain.

Baca Juga :  MinyaKita Bikin Kantong Bolong, Harga Terus Melejit dan Berstatus Waspada!

“Sebenarnya belum jelas, tapi saya sudah dengar-dengar dari beberapa orang, akan di-takeover-lah. Jadi ya (GS Supermarket) sudahan dulu, beres-beres, baru deh (gerai diambil alih). Itu biasa sih di retail kalau kita tutup terus diganti brand baru itu biasa kok,” ujarnya.

2. LuLu Hypermarket: Diskon Besar dan Isu Tutup

Awal April 2025, pengunjung setia LuLu Hypermarket dikejutkan oleh diskon hingga 90 persen di gerai Cakung dan Sawangan. Spekulasi pun bermunculan: apakah ritel asal Uni Emirat Arab ini akan menyusul GS?

Isu bangkrut dan tutup operasi segera beredar luas. Namun, Corporate Affairs Director LuLu Group International, Luthfi Husin, menepis rumor tersebut.

“Terkait info-info yang beredar kalau gerai Lulu Hypermarket mau tutup operasi itu tidak benar ya,” tegasnya, dilansir CNBC Indonesia, Jumat (11/4).

Luthfi menjelaskan, diskon besar-besaran itu bagian dari strategi menyegarkan kembali model bisnis mereka. Hypermarket, menurutnya, tengah mengalami penurunan daya tarik di mata konsumen, dan LuLu sedang bersiap menyambut model baru.

Baca Juga :  Pemkab Bogor Percepat Pembangunan Pusat Pertumbuhan Ekonomi Baru di Wilayah Timur dan Barat

3. Giant: Raksasa yang Jatuh Lebih Awal

Sebelum GS dan LuLu, Giant sudah lebih dulu mengucap selamat tinggal. Pada Juli 2021, seluruh gerai Giant ditutup secara permanen. Perubahan perilaku belanja konsumen dan kerugian yang terus terjadi sejak 2017 menjadi alasan utama keputusan ini.

Giant adalah bagian dari Hero Group yang kemudian mengalihkan fokus bisnisnya ke merek lain seperti Guardian, IKEA, dan Hero Supermarket.

“Kami juga berharap dapat menyediakan peluang baru seiring dengan pengembangan bisnis kami lainnya yang memiliki potensi pertumbuhan positif yaitu Guardian, IKEA, dan Hero Supermarket,” demikian pernyataan resmi perusahaan pada 14 Juni 2021.

Namun, pergeseran arah bisnis itu berdampak besar: sekitar 7 ribu karyawan kehilangan pekerjaan akibat penutupan total jaringan Giant.

Dunia ritel adalah panggung yang terus berubah. Persaingan ketat, digitalisasi, dan perubahan selera konsumen membuat para pemainnya harus terus beradaptasi—atau angkat kaki. Dan kisah tiga supermarket ini menjadi pengingat bahwa bahkan merek besar pun bisa tergilas jika tak mampu mengikuti irama zaman.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel