TIMETODAY.ID — Pernah merasa cemas saat melihat teman-teman nongkrong tanpa mengajakmu? Atau merasa tertinggal karena belum mencoba tren terbaru yang viral di media sosial? Jika iya, kamu tidak sendiri. Rasa takut tertinggal ini dikenal dengan istilah Fear of Missing Out, atau FOMO.
Istilah FOMO memang populer belakangan ini, terutama di era media sosial. Tapi sebenarnya, fenomena ini bukan hal baru. Manusia memang pada dasarnya ingin merasa terhubung, diikutsertakan, dan diakui keberadaannya dalam lingkaran sosial. Dan saat kita merasa tertinggal, tubuh dan pikiran kita memberi sinyal tidak nyaman.
Apa Itu FOMO?
FOMO adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa cemas, gelisah, atau bahkan panik karena merasa melewatkan pengalaman atau kesempatan yang sedang dinikmati orang lain. Misalnya, melihat story teman liburan ke luar kota saat kamu sedang lembur, atau membaca komentar seru di thread yang kamu belum sempat ikuti.
Rasa ini muncul karena kita punya keinginan untuk selalu menjadi bagian dari apa yang “terjadi”. Sayangnya, media sosial memperbesar efeknya. Setiap kali kita membuka Instagram atau TikTok, kita disuguhi gambaran bahwa orang lain sedang menjalani hidup yang lebih menarik, lebih produktif, atau lebih bahagia. Padahal, yang ditampilkan di sana seringkali hanya potongan terbaik dari hidup mereka.
Mengapa Kita Rentan FOMO?
Ada beberapa alasan mengapa kita sering mengalami FOMO:
- Kebutuhan Sosial yang Kuat
Kita ingin merasa diterima. Saat melihat orang lain berkumpul tanpa kita, muncul perasaan tersisih, seolah-olah kita tidak cukup penting untuk diikutsertakan. - Budaya Perbandingan
Media sosial mempermudah kita membandingkan diri sendiri dengan orang lain. Kita lupa bahwa yang kita lihat bukanlah realitas utuh, melainkan versi terkurasi. - Kecemasan dan Harga Diri
FOMO lebih mudah muncul pada mereka yang sedang merasa tidak cukup, kurang percaya diri, atau sedang mengalami tekanan dalam hidup.
Dampaknya Tidak Sepele
FOMO bisa menimbulkan berbagai dampak negatif, baik secara mental maupun emosional:
- Merasa tidak puas dengan kehidupan sendiri
- Sulit fokus karena merasa harus terus mengikuti update
- Kecemasan sosial atau rasa minder berlebihan
- Keputusan impulsif, seperti ikut-ikutan tren hanya demi validasi
Dalam jangka panjang, FOMO bisa membuat kita kehilangan koneksi dengan realitas dan lupa untuk bersyukur atas apa yang kita miliki.
Apa yang Bisa Kita Lakukan?
Mengatasi FOMO bukan soal menjauh dari media sosial sepenuhnya, melainkan tentang menyadari bahwa tidak semua hal harus diikuti.
- Sadari bahwa kamu tidak harus ada di semua tempat, setiap saat.
Tidak semua undangan atau tren perlu kamu ikuti. Pilih yang benar-benar memberi nilai. - Berlatih bersyukur.
Fokus pada hal-hal yang kamu punya hari ini. Terkadang, yang membuat kita merasa “kurang” adalah lupa melihat “cukup”. - Detoks digital secara berkala.
Coba sesekali puasa media sosial atau batasi waktu scrolling. Ini bisa memberi ruang bagi pikiranmu untuk beristirahat. - Bangun koneksi yang otentik di dunia nyata.
Alih-alih terus membandingkan, lebih baik bangun hubungan yang mendalam dengan orang-orang di sekitar.
Penutup
FOMO adalah bagian dari kehidupan modern yang sulit dihindari. Tapi dengan kesadaran dan langkah kecil, kita bisa mengelolanya agar tidak merusak kesehatan mental. Ingat, hidup bukan perlombaan untuk mengikuti semua hal. Kadang, yang terbaik justru ada dalam momen yang kita nikmati secara sadar—tanpa perlu membandingkan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































