Suntik Bisa Ular 856 Kali, Tim Friede Ubah Tubuhnya Jadi Laboratorium Hidup

ular
ilustrasi ular (istock)
TIMETODAY.ID — Selama hampir dua dekade, seorang pria di Amerika Serikat melakukan sesuatu yang bagi banyak orang terdengar seperti misi bunuh diri: menyuntikkan bisa ular ke dalam tubuhnya—berulang kali, hingga ratusan kali. Tapi bagi Tim Friede, seorang ahli ular otodidak, ini adalah jalan ekstrem menuju misi yang lebih besar: menciptakan antibisa ular yang lebih efektif dan ramah manusia.
Kini, setelah 856 kali penyuntikan selama 18 tahun, darah Friede tak hanya selamat dari racun mematikan, tapi juga menyimpan kunci revolusi medis yang bisa menyelamatkan ribuan nyawa.
Dari Kegilaan ke Penemuan
Bukan ilmuwan, bukan dokter, bukan pula anggota laboratorium riset resmi. Tim Friede memulai eksperimen gilanya di rumah. Ia menyuntikkan racun dari berbagai spesies ular mematikan, termasuk dari Afrika dan Asia, demi membangun kekebalan tubuh. Meski terdengar nekat, pendekatan “self-immunization” ini ia dokumentasikan secara detail selama hampir 18 tahun.
Kisahnya menarik perhatian Jacob Glanville, ahli imunologi ternama, yang mengenali potensi besar di balik tubuh Friede yang kini laksana perpustakaan antibodi terhadap racun ular.
Satu Tubuh, 19 Spesies Ular, dan Satu Solusi
Friede menyumbangkan 40 mililiter darahnya ke Glanville dan tim ilmuwan dari Universitas Columbia. Mereka berhasil mengisolasi antibodi yang mampu menetralkan neurotoksin dari 19 spesies ular elapid, termasuk ular kobra dan mamba hitam—jenis ular yang bisanya bisa membunuh dalam hitungan menit.
Dalam uji coba pada tikus, antibodi dari darah Friede menunjukkan perlindungan 100% terhadap 13 spesies, dan perlindungan sebagian terhadap 6 spesies lainnya. Tambahan obat molekul kecil bernama varespladib memperkuat efek antibodi, menciptakan kombinasi koktail penawar racun yang belum pernah ada sebelumnya.
Antibodi Bernama dan Masa Depan Pengobatan
Dua antibodi dari tubuh Friede kini punya nama: LNX-D09 dan SNX-B03. Digabungkan dengan varespladib, koktail ini membuka pintu menuju pan-antivenom—antibisa lintas spesies ular yang selama ini hanya jadi mimpi di dunia medis.
Berbeda dengan antibisa konvensional yang biasanya dibuat dari darah hewan seperti kuda dan sering menimbulkan efek alergi berat pada pasien, antibodi dari manusia diprediksi lebih aman dan minim risiko.
“Jika berhasil masuk ke klinik, ini akan menjadi revolusi dalam pengobatan gigitan ular,” kata Steven Hall, farmakolog dari Universitas Lancaster.
Belum Selesai—Target Selanjutnya: Ular Viperid
Penelitian yang sudah dipublikasikan dalam jurnal Cell ini masih fokus pada ular elapid. Namun, ular viperid—seperti ular berbisa sisik gergaji dan ular derik—masih jadi tantangan berikutnya. Tim peneliti kini mengeksplorasi kemungkinan antibodi tambahan dari darah Friede atau kombinasi lain untuk mencakup kelompok mematikan ini.
“Tujuannya adalah membuat satu koktail antibisa global, atau setidaknya dua—untuk elapid dan viperid,” ujar Peter Kwong dari Columbia University.
Dari Pria “Gila” ke Penyelamat Nyawa
Tim Friede berhenti menyuntikkan bisa pada 2018 setelah nyaris kehilangan nyawa beberapa kali. Kini, ia bekerja bersama Glanville di perusahaan bioteknologi, bukan lagi sebagai objek eksperimen, melainkan sebagai pionir dalam pengembangan obat.
Ia mungkin pernah disebut gila, ekstrem, bahkan nekat. Tapi dari tindakan radikal seorang pria, lahirlah harapan baru: dunia tanpa kematian sia-sia karena gigitan ular.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Baca Juga :  Kenali Ular yang Kerap Muncul di Rumah, Ada yang Berbisa!

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel