TIMETODAY.ID — Bayangkan dua pemuda berusia 23 tahun tanpa pengalaman, tanpa izin keamanan tinggi duduk di depan laptop mereka, dengan akses ke jaringan yang menyimpan data senjata nuklir Amerika Serikat.
Bukan naskah film Hollywood. Ini bukan fiksi. Ini kenyataan yang terjadi di balik pintu tertutup sebuah lembaga baru bernama DOGE, singkatan dari Departemen Efisiensi Pemerintah proyek eksentrik yang dipelopori oleh Elon Musk.
Laporan eksklusif dari NPR mengungkap bahwa Luke Farritor, mantan magang di SpaceX, dan Adam Ramada, seorang venture capitalist muda, diberi akses ke sistem milik Departemen Energi AS tempat bersemayamnya rahasia pertahanan nuklir Amerika.
Akses ini berlangsung selama dua pekan, tanpa pengawasan memadai, dan yang paling mencengangkan: dilakukan dari luar lingkungan aman yang biasanya dibutuhkan untuk membuka sistem tersebut.
Ketika Eksperimen Menyentuh Nuklir
Sistem yang mereka masuki bukan sekadar data logistik atau laporan keuangan negara. Ini adalah jaringan yang juga digunakan oleh National Nuclear Security Administration (NNSA)—badan federal yang bertanggung jawab atas pengelolaan stok senjata nuklir AS.
Dua sumber NPR mengonfirmasi melihat nama Farritor dan Ramada dalam direktori jaringan NNSA. Hal itu, dalam protokol keamanan nasional, adalah skandal.
“Ini seperti memberi kunci gudang senjata pada magang SMA,” ujar seorang mantan pejabat NNSA yang enggan disebut namanya.
DOGE: Nama yang Lucu, Dampak yang Tidak
Sejak awal, DOGE memang mengundang kontroversi. Gaya manajemen Musk yang cepat dan antikonvensional tampaknya ikut diterapkan dalam lembaga ini—dengan hasil yang memunculkan lebih banyak pertanyaan daripada solusi.
CNN bahkan melaporkan bahwa pada Februari lalu, Farritor sudah memiliki akses awal ke sistem Departemen Energi, meski mendapat penolakan keras dari penasihat hukum dan kepala teknologi departemen.
Dalam hitungan bulan, DOGE sudah menghadapi tiga gugatan hukum karena dugaan penyalahgunaan data pemerintah. Namun kasus Farritor-Ramada membawa isu ini ke level baru: keamanan nuklir nasional.
Kebohongan, Klarifikasi, atau Trickle Truthing?
Awalnya, Departemen Energi menyangkal mentah-mentah laporan tersebut. Namun pekan lalu, tekanan informasi membuat mereka mengakui bahwa memang ada akun atas nama Farritor dan Ramada di sistem mereka.
Tapi mereka bersikukuh: “Akun itu tidak pernah diaktifkan.” Pernyataan ini justru memperkeruh spekulasi.
Chris Wright, Menteri Energi, menyebut laporan tersebut sebagai “rumor liar”—tapi publik keburu bertanya: bagaimana akun itu bisa dibuat, apalagi jika menyangkut jaringan ultra-sensitif?
Satu Lubang, Banyak Bocor
Ini bukan kebocoran pertama. Whistleblower Daniel Berulis dari NLRB (National Labor Relations Board) mengungkap DOGE juga telah menyebabkan pelanggaran keamanan signifikan di institusinya. Salah satu insiden yang mencengangkan: sistem mereka mendeteksi upaya login dari alamat IP Rusia, yang menggunakan kredensial milik akun DOGE.
Insiden ini memperparah kekhawatiran soal “eksperimen efisiensi” Musk yang dinilai sembrono, tidak transparan, dan mengabaikan standar keamanan yang paling dasar.
Ketika Inovasi Bertemu Bahaya
DOGE mungkin dimulai sebagai mimpi Elon Musk untuk membuat birokrasi lebih ramping. Tapi kini, bayangan idealisme itu dihantui oleh potensi bencana keamanan siber terbesar dalam sejarah Amerika.
Saat ini, masyarakat bertanya bukan hanya soal siapa yang salah, tapi siapa yang bertanggung jawab. Dan bila dugaan-dugaan ini benar, DOGE bisa jadi bukan sekadar simbol efisiensi—melainkan ancaman laten di jantung pemerintahan.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































