Warung Sederhana, Jiwa Besar: Mengingat Mbok Yem, Sahabat Para Pendaki

Mbok yem
Mbok Yem, pemilik warung legendaris di Puncak Gunung Lawu, mulai pulih setelah dirawat di RSU Aisyiyah Ponorogo akibat sakit gigi dan taring goyang. Ini jadi pengalaman pertamanya dirawat di rumah sakit selama hidup.(Kompas.com/Sukoco)

TIMETODAY.ID — Di balik dinginnya angin dan sunyinya malam di Puncak Gunung Lawu, ada satu nama yang tak pernah asing bagi para pendaki: Mbok Yem. Perempuan bernama lengkap Wakiyem ini bukan hanya pemilik warung di ketinggian 3.265 meter, tapi juga menjadi simbol keramahan, ketulusan, dan pengorbanan. Pada Rabu, 23 April 2025, sosok yang dijuluki “Legenda Gunung Lawu” itu tutup usia di usia 82 tahun.

Tak sedikit yang terkejut, meski sebelumnya Mbok Yem memang sempat turun gunung dalam kondisi sakit. Pada Maret lalu, ia harus ditandu dari puncak dan dirawat di RSU Aisyiyah Ponorogo karena pneumonia. Kunjungannya pun dibatasi karena sempat mengalami sesak napas. Namun kabar itu tak menghalangi para pendaki datang menjenguk dan mengirim doa.

Warungnya seperti oase di padang pasir. Dalam dunia pendakian, kehadiran Mbok Yem adalah semacam keajaiban—selalu ada ketika tenaga sudah hampir habis, dan perut mulai kelaparan.

Advertisement
Baca Juga :  Dua Bidan di Yogyakarta Ditangkap atas Kasus Penjualan Bayi Sejak 2010  

Dedikasinya dalam melayani pendaki nyaris tak mengenal batas. Dalam sebuah wawancara pada Maret lalu, Mbok Yem mengungkapkan bahwa ia kerap memaksakan diri tetap melayani meski sedang sakit.

“Kemarin itu sakit gigi, enggak bisa tidur. Kadang sampai jam 12 malam enggak tidur. Jam 2 malam itu masih goreng telur karena ada pendaki yang lapar. Kalau capek baru tertidur,” tuturnya.mengutip dari kompas.com.

Tak hanya tubuhnya yang kuat, semangat Mbok Yem pun tak pernah surut, meski anaknya sendiri, Saelan, sering khawatir.

“Dilarang pun tidak bisa karena kalau di rumah yang dipikir bagaimana orang-orang yang naik gunung bisa makan,” kata Saelan.

Menurut Saelan, sang ibu memang sudah tidak lagi memikirkan untung-rugi dalam berjualan. Biaya membawa sembako hingga ke puncak bisa mencapai Rp500 ribu, namun bagi Mbok Yem, hal itu bukan soal.

Baca Juga :  Mengenal Gunung Slamet, Gunung Tertinggi Kedua di Jawa yang Penuh Keindahan

“Kami memahami bagaimana Simbok lebih mementingkan bisa jualan di atas daripada memikirkan untungnya.”

Saat Mbok Yem sakit dan dirawat, warung kecil di Puncak Lawu itu tetap buka. Meski tampak sederhana, warung itu menyimpan begitu banyak cerita, tawa, dan hangatnya kebersamaan. Salah satu menu yang paling dirindukan para pendaki? Nasi pecel ala Mbok Yem—hangat, pedas, dan penuh kenangan.

Kini, Gunung Lawu terasa sedikit lebih sepi. Tak lagi ada senyum tulus Mbok Yem menyambut di tengah malam, tak lagi terdengar suara spatula menggoreng telur pukul dua pagi. Tapi namanya akan terus hidup di tiap langkah pendaki yang pernah menapaki Lawu, dalam tiap uap nasi pecel, dan dalam doa-doa yang naik bersama kabut.

Selamat jalan, Mbok Yem. Gunung Lawu kehilangan denyut hangatnya.***

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel

Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau whatsapp channel