TIMETODAY.ID — Dalam beberapa tahun terakhir, istilah “healing” menjadi begitu populer, terutama di kalangan anak muda. Liburan ke alam, menyepi ke pantai, atau sekadar minum kopi sambil mendengarkan musik disebut sebagai bagian dari proses healing—penyembuhan luka batin atau pemulihan dari stres.
Namun, tidak semua kegiatan yang menenangkan bisa disebut healing. Di balik unggahan bertagar #HealingTime atau #ButuhHealing, terselip pertanyaan penting: apakah kita benar-benar sedang menyembuhkan diri, atau sekadar lari dari masalah?
Healing: Memulihkan, Bukan Melupakan
Dalam konteks psikologis, healing berarti proses sadar dan aktif untuk menghadapi luka emosional. Ia tidak selalu indah, dan sering kali justru menyakitkan. Healing bisa berupa menghadapi trauma masa lalu, menyelami perasaan sedih, marah, atau kecewa yang selama ini dipendam, lalu perlahan-lahan belajar berdamai.
Proses ini membutuhkan waktu, refleksi, dan keberanian. Kadang ia datang dalam bentuk terapi, journaling, berbicara dengan orang terdekat, atau bahkan menangis diam-diam. Healing bukan tentang ‘melupakan masalah’, tapi tentang memberi ruang bagi diri sendiri untuk merasa, lalu tumbuh darinya.
Pelarian: Menunda yang Tak Terelakkan
Sebaliknya, pelarian terjadi saat seseorang memilih untuk menghindari rasa tidak nyaman. Pelarian bisa tampak seperti healing di permukaan: liburan ke tempat jauh, maraton drama Korea, atau menyibukkan diri dengan pekerjaan. Namun yang membedakan adalah motivasinya—pelarian berusaha menumpuk kesenangan agar tak perlu menghadapi hal yang menyakitkan.
Mereka yang terus-menerus “healing” tapi tak kunjung membaik, bisa jadi sedang terjebak dalam pelarian. Aktivitasnya menyenangkan, tapi setelah selesai, perasaan cemas, marah, atau sedih itu kembali hadir, kadang lebih kuat.
Kenapa Bedanya Penting?
Karena arah keduanya berseberangan. Healing membawa kita lebih dekat pada diri sendiri, pada luka yang ingin kita sembuhkan. Sementara pelarian menjauhkan kita dari akar masalah—dan seperti api kecil yang tak dipadamkan, ia bisa menjadi besar dan sulit dikendalikan.
Membedakan keduanya bukan untuk menyalahkan. Kita semua, pada titik tertentu, pernah memilih pelarian. Namun ketika kita menyadari perbedaannya, kita bisa mulai lebih jujur pada diri sendiri: apakah kita sedang beristirahat untuk menguatkan diri, atau sekadar menunda luka yang belum kita hadapi?
Bagaimana Membedakannya?
Healing:
- Membuat kita merasa lebih ringan dan jernih setelahnya.
- Mengajak kita melihat ke dalam dan mengenali emosi.
- Ada proses refleksi dan pemahaman yang tumbuh.
- Mendorong kita melakukan perubahan nyata.
Pelarian:
- Menghindari rasa tidak nyaman tanpa menyelesaikan akar masalah.
- Memberi kesenangan sesaat, tapi cemas atau sedih kembali datang.
- Tidak ada refleksi, hanya distraksi.
- Bisa menjadi kebiasaan adiktif.
Menutup Luka Butuh Waktu
Kita hidup di zaman yang serba cepat—semua ingin hasil instan, termasuk saat ingin sembuh dari luka batin. Tapi healing bukan produk sekali pakai. Ia adalah perjalanan yang kadang naik-turun, kadang butuh bantuan orang lain, dan sering kali tak bisa dilihat hasilnya dalam hitungan hari.
Tak masalah jika sesekali kita ingin menyendiri, liburan, atau menghibur diri. Tapi ada baiknya kita melakukannya dengan kesadaran penuh: apakah ini benar-benar membantu saya pulih, atau hanya menunda sesuatu yang pada akhirnya harus saya hadapi?
Karena pada akhirnya, healing sejati bukan soal pergi ke tempat yang jauh, tapi kembali ke diri sendiri dengan lebih utuh.***
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































