TIMETODAY.ID — Tersembunyi di balik perbukitan bekas tambang batu bara, sebuah danau berwarna biru toska tiba-tiba muncul di hadapan mata—tenang, sunyi, namun menyimpan keindahan yang memikat siapa pun yang datang.
Itulah Danau Biru Pengaron, sebuah destinasi wisata alam yang kini tengah naik daun di Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan.
Bagi penduduk lokal, danau ini dulunya hanya bekas galian tambang yang ditinggalkan. Tapi alam punya caranya sendiri untuk menyembuhkan luka—bekas galian itu perlahan terisi oleh air hujan, dan tanpa diduga, memantulkan warna biru kehijauan yang memesona.
Kini, tempat itu tak hanya menjadi saksi bisu sejarah eksploitasi alam, tetapi juga berubah menjadi salah satu spot wisata paling instagramable di Kalimantan Selatan.
Perjalanan Menuju Birunya Kedamaian
Untuk mencapai Danau Biru Pengaron, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar dua jam dari pusat Kota Banjarmasin.
Rutenya bisa dibilang cukup menantang—melewati jalanan desa yang belum sepenuhnya mulus dan beberapa medan berbatu. Tapi justru itu yang membuat pengalaman ke tempat ini terasa seperti petualangan mini.
Sesampainya di lokasi, rasa lelah langsung terbayar lunas. Hamparan danau berwarna biru kehijauan, dikelilingi bukit-bukit terjal berwarna coklat kemerahan, menciptakan kontras warna yang memanjakan mata.
Pada pagi hari, kabut tipis sering menyelimuti permukaan air, menambah kesan magis yang membuat siapa pun betah berlama-lama memandangi alam.
Lebih dari Sekadar Foto
Banyak yang datang ke Danau Biru Pengaron hanya untuk berswafoto, memanfaatkan latar belakang danau yang tampak seperti lukisan.
Namun danau ini juga menyimpan suasana yang menenangkan, cocok untuk pengunjung yang ingin melepas penat dari rutinitas kota.
Meski berenang tidak dianjurkan karena kedalaman dan kondisi dasar danau yang tidak bisa diprediksi, pengunjung bisa menikmati suasana dengan berpiknik ringan di tepi danau atau hanya duduk di bebatuan, meresapi ketenangan.
Beberapa komunitas lokal bahkan menjadikan tempat ini sebagai spot untuk meditasi dan refleksi diri.
Tak sedikit pula fotografer profesional yang datang berburu momen matahari terbenam yang memantul di permukaan air biru ini.
Menjaga, Bukan Merusak
Sayangnya, pesona Danau Biru juga datang dengan tantangan. Semakin banyak wisatawan yang datang, semakin besar pula risiko kerusakan lingkungan akibat sampah dan eksploitasi berlebihan.
Belum ada fasilitas wisata resmi seperti toilet, tempat sampah, atau papan informasi, sehingga kesadaran pengunjung sangat dibutuhkan untuk menjaga keasrian tempat ini.
Warga sekitar dan komunitas pecinta alam beberapa kali mengadakan kegiatan bersih-bersih dan kampanye edukasi wisata bertanggung jawab. Mereka berharap, keindahan Danau Biru Pengaron bisa dinikmati generasi berikutnya tanpa harus mengorbankan alamnya.
Sekilas, Seperti Danau Alpen
Banyak pengunjung menyamakan Danau Biru Pengaron dengan danau-danau di Pegunungan Alpen.
Meski jauh berbeda dari segi letak geografis, keduanya memiliki satu kesamaan: mampu membuat siapa pun yang melihatnya sejenak lupa dengan dunia luar.
Di balik sunyinya alam Pengaron, danau biru ini berdiri tenang—seolah mengajak siapa pun untuk datang, duduk, dan diam barang sejenak, membiarkan alam berbicara lewat keindahannya.
Tips Berkunjung ke Danau Biru Pengaron
- Waktu terbaik: pagi hari sebelum pukul 09.00 atau sore menjelang matahari terbenam
- Bawa makanan/minuman sendiri, tapi jangan lupa bawa pulang sampahnya
- Pakai sepatu yang nyaman karena trek menuju danau cukup terjal
- Jangan berenang, karena kedalaman dan keamanannya belum terjamin
- Hormati alam dan hindari merusak lingkungan sekitar
Jika kamu mencari tempat wisata yang belum terlalu ramai, indah, dan penuh suasana damai—Danau Biru Pengaron mungkin adalah jawabannya. Sebuah keindahan yang tak dibuat-buat, namun diciptakan alam dengan caranya yang ajaib.
Follow dan Baca Artikel lainnya di Google News atau via whatsapp timetoday wa channel








































