TIMETODAY.ID, BOGOR – Kawasan wisata Puncak, Kabupaten Bogor, Jawa Barat kembali disesaki kendaraan akhir pekan ini. Kemacetan panjang tak terelakkan sejak pagi hari akibat meningkatnya volume kendaraan dan penerapan sistem rekayasa lalu lintas satu arah (one way), Sabtu (5/4/2025).
Ari (35), seorang pengendara asal Jakarta, harus menghabiskan waktu lebih dari tiga jam di dalam mobilnya hanya untuk melintasi jalur yang biasanya bisa ditempuh dalam waktu satu jam. Raut lelah tak bisa disembunyikannya saat ditemui di tengah antrean kendaraan.
“Biasanya kalau lancar paling satu jam sudah sampai bawah. Ini dari jam 10 pagi sampai sekarang siang baru jalan. Lama banget di tutupnya,” keluh Ari kepada timetoday.id
Ari bukan satu-satunya yang merasa jenuh dengan situasi tersebut. Banyak pengendara lain tampak mengantre tanpa kepastian waktu, hanya menunggu giliran arus satu arah dibuka. Ia berharap agar pemerintah tidak hanya mengandalkan sistem buka-tutup jalan sebagai solusi jangka pendek.
“Kalau begini terus tiap liburan, capek juga. Harusnya ada jalur alternatif yang benar-benar bisa dipakai, jangan cuma andalkan buka-tutup jalan,” ujar pengendara lainnya.
Kondisi padatnya kendaraan di kawasan Puncak diperparah dengan penutupan sementara arus kendaraan dari arah Jakarta menuju atas. Penutupan tersebut dilakukan guna memberi kesempatan kendaraan dari arah sebaliknya untuk melintas dalam sistem one way.
Sebelumnya, KBO Satlantas Polres Bogor, Iptu Ardian, menjelaskan bahwa sistem rekayasa lalu lintas ini diterapkan untuk mengatasi penumpukan kendaraan yang kerap terjadi di akhir pekan dan masa liburan.
“Karena sejak pagi arah bawah ditutup, maka kendaraan dari atas tertahan cukup lama. Mulai pukul 12.00 WIB, one way diberlakukan dari Puncak ke Jakarta untuk mengurai kemacetan,” jelas Ardian.
Ia menambahkan, sistem satu arah dilakukan secara bergantian tergantung pada kondisi lalu lintas di lapangan. Namun, kendati telah menjadi solusi rutin, banyak pihak menilai pendekatan ini belum cukup efektif untuk mengatasi persoalan jangka panjang.
Editor : B. Supriyadi





































